Pesantren Haji dan Umrah, Menuju Kesempurnaan Ibadah Haji

Catatan : Amirul Khair
El-Khair - Minggu, 12 April 2026 19:11 WIB
Pesantren Haji dan Umrah, Menuju Kesempurnaan Ibadah Haji
el-khair.analisamedan.com
PRAKTIK LANGSUNG : Salah satu bentuk kegiatan Pesantren Haji dan Umrah lewat praktik langsung sebagai salah satu upaya penguatan terhadap calon jemaah haji

analisamedan.com - "Inovatif dan Kreatif" begitu penulis menilai kegiatan Pesantren Haji dan Umrah yang digagas kolaborasi 2 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Almahabbah (berpusat di Kecamatan Batangkuis) dan KBIHU Alhafiz (berpusat di Kecamatan Percut Seituan), Sabtu-Minggu, 11-12 April 2026.

Bermuatan pemahaman dan penguatan tentang ibadah haji sekaligus praktik langsung layaknya sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah Almukarramah menjadi bentuk kegiatan Pesantren Haji dan Umrah tersebut.

Dari penelusuran penulis, kegiatan Pesantren Haji dan Umrah ini merupakan pertama di Kabupaten Deliserdang dan mungkin saja juga di Provinsi Sumatera Utara atau bahkan Indonesia, digagas KBIHU secara mandiri.

Pelaksanaan Pesantren Haji dan Umrah mengambil dua bentuk kegiatan yakni, paparan dan praktik, ada banyak catatan penting baik sebagai kritik maupun saran yang perlu dikuatkan agar pelaksaaan ibadah haji meraih kesempurnaan menuju kemabruran.

Ilmu dan Kesadaran

Salah satunya fenomena yang muncul dan sangat prinsipil bagi jemaah calon haji yakni, keilmuan terkait ibadah haji dan kesadaran spiritual. Kedua sisi ini sangat besar pengaruhnya secara syariat menentukan nilai kesempuraan ibadah haji seorang jemaah.

Narasumber kegiatan Haji Syamsuddin Nur menguak betapa banyak jemaah haji yang tidak jujur dalam melaksanakan ibadah haji. Ketidakjujuran tersebut bisa disebabkan tidak paham tentang ibadah haji juga faktor gengsi untuk mengakui telah melakukan pelanggaran selama beribadah.

Bentuk pelanggaran selama ibadah haji berlangsung bisa dikatakan sebenarnya sudah disampaikan dalam bimbingan manasik terbatas seperti, tidak boleh memakai wewangian baik minyak pengharum, minyak obat maupun bahan-bahan kebersihan lainnya seperti mencuci tangan pakai sabun dan lainnya.



Termasuk bentuk larangan memotong kuku, mencukur bulu-bulu, menampakan aurat di depan umum terlebih adanya potensi melakukan hubungan suami istri bagi yang berangkat haji bersama.

Pelanggaran-pelanggaran di atas serta lainnya yang tidak diungkapkan dalam catatan ini, bagi banyak jemaah haji terkesan sepele. Apa lagi jemaah haji sebelum berangkat mendapatkan pembekalan kurang mendalam atau tidak dipahami secara kaffah sehingga tatkala melakukan pelanggaran, tidak merasa untuk memperbaiki dan bertanya kepada pembimbing setelah melakukannya.

Akhirnya, semua diabaikan tanpa berupaya untuk menyempurnakan lewat pembayaran 'dam' (denda) atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Ironisnya lagi, ada faktor gengsi dan malu bila sudah melakukan pelanggaran untuk disampaikan.

Solusi terhadap masalah ini tentulah butuh penguatan dalam memberikan pemahaman kepada jemaah calon haji secara keilmuan serta menumbuhkan kesadaran spiritual untuk tidak gengsi dan malu untuk bertanya bila saat menunaikan ibadah haji telah melakukan pelanggaran.

Selain itu, pihak KBIHU harus lebih kreatif dan inovatif dalam mencari metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada para jemaah calon haji yang berangkat mengingat kecerdasan mereka berbeda-beda.

Inovasi dan kreativitas ini penting sehingga punya alternatif metode yang bisa diimplementasikan kepada jemaah yang berbeda-beda cara memahami semua uraian yang disajikan saat melaksanakan materi manasik.

Kewajiban ini juga melekat kepada pihak pemerintah selaku regulator haji untuk melahirkan rumusan-rumusan yang memudahkan bagi para jemaah calon haji baik secara teknis maupun pola-pola pembimbingan disesuaikan dengan perkembangan situasi termasuk penyesuaian kebijakan dari pemerintah Arab Saudi.

Pola Strategis

Catatan ini tentu jauh dari sempurna dan tidak cukup untuk diuraikan secara rinci untuk mewujudkan kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji menuju kemabruran. Namun setidaknya ide dan gagasan Pesantren Haji dan Umrah yang dilaksanakan KBIHU Almahabbah dan KBIHU Alhafizh ini bisa menjadi 'role model' terhadap penguatan bagi para jemaah calon haji.

Pola dari Pesantren Haji dan Umrah yang sudah dilakukan ini sangat strategis untuk memberikan kesiapan lahir batin bagi para jemaah calon haji sehingga tidak kaku apa lagi 'tertekan' dengan rasa takut juga keraguan saat melaksakan ibadah haji di tanah suci.

Selain penguatan terkait dengan ilmu sebagai dasar ibadah, penguatan mental secara terus-menerus dan membuka ruang lebih besar untuk bertanya diiringi praktik, tentu akan semakin menguatkan mental jemaah calon haji.

Selain itu, upgrade situasi dan kebijakan pelaksanaan ibadah haji termasuk di Makkah sebagai tempat ibadah, turut menyertai pengetahuan para jemaah calon haji seperti dipaparkan narasumber Zainuddin, mengingat perkembangan di Makkah yang terus berubah dan sangat cepat.

Layanan Maksimal

Bagi regulator, eksekutor dan fasilitator, pelaksanaan ibadah haji bagi para jemaah calon haji mulai dari tanah air sampai ke tanah suci, jangan hanya dimaknai dengan kewajiban ala kadarnya saja.

Lebih dari itu, mereka adalah 'Tamu-tamu Allah' (Duyyufurrahman) yang harus dilayani secara baik dan semaksimal mungkin. Melayani mereka bukan sekadar lepas rodi karena kewajban yang sudah diiringi dengan hak berupa imbalan dari tugas-tugas.

Petugas-petugas yang diamanahkan pemerintah dan sudah mendapatkan fasilitas misalnya, tentulah punya kewajiban penuh dan kondisional untuk mempermudah para jemaah calon haji dengan tidak 'ego' mencoba fokus pada ibadah pribadi di tanah suci.

Bukankah melayani mereka juga ibadah besar ? Bahkan mereka yang melayani untuk membantu dan memudahkan mereka dalam ibadah juga akan mendapatkan pahala setara orang yang melakukannya ?

Semoga pelaksanaan ibadah haji tahun ini bisa lebih baik dan para jemah calon haji meraih kesempurnaan nilai dan pulang ke tanah air sebagai 'Haji Mabrur'. Amin.



PRAKTIK LANGSUNG : Salah satu bentuk kegiatan Pesantren Haji dan Umrah lewat praktik langsung sebagai salah satu upaya penguatan terhadap calon jemaah haji

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru