Refleksi MUSPIM ISNU 4-5 Agustus Palembang ISNU: Dari Kitab Kuning Menuju Kehidupan Sosial
analisamedan.com - Salah satu ciri peradaban modern dan pasca modern adalah ketika setiap aksi mesti dilandaskan kepada teori ilmiah atau putusan akademik. Sehingga laju peradaban dalam konteks ini akan sangat ditentukan oleh capaian-capaian pada ranah aksiologi ilmu pengetahuan. Atas dasar ini lah barangkali maka pemerintah telah menekankan pemberlakuan kurikulum berbasis luaran atau akrab disebut Outcome Based Educatioan (OBE).
"Al-'ilmu bilą 'amalin ka al-syajari bilą tsamarin" adalah salah satu "al-Mahfuzhąt" kata-kata bijak yang kita hafal di Pesantren dengan makna "Ilmu tanpa aktualisasi bagaikan pohon yang tumbuh menua tetapi tanpa buah". Uangkapan yang sejalan dengan cita-cita Outcome Based Educatioan (OBE).
Kesadaran ini juga yang telah menjadi salah satu alasan dibentuknya Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU) sebagai fasilitator terbangunnya laboratorium kitab kuning Pesantren serta temuan-temuan ilmiah Kampus di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. ISNU dituntut mau dan mampu menjembatani agar "qo'idah-qo'idah" logis, etis, estetis, dan mistisis yang terdapat pada kitab kuning dapat diadaptasi dalam merumuskan kebijakan-kebijakan serta aturan-aturan yang menjadi acuan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sebagai pemeluk agama, masyarakat, serta sebagai anak bangsa.
Lewat jalan ini isi kitab kuning akan menjelma menjadi Turas Nusantara yang dapat mengawal pelestarian kearifan lokal dalam setiap tahapan memajukan peradaban. Dalam hal ini ISNU diharapkan menjadi "Santri Plush" menjembatani Dawuh Kiyai agar menjadi pengawal peradaban.