Refleksi MUSPIM ISNU 4-5 Agustus Palembang ISNU: Dari Kitab Kuning Menuju Kehidupan Sosial
Begitu pun dengan temuan-temuan akademik kampus yang berada pada skripsi, tesis, disertasi, buku-buku, dan jurnal ilmiah yang membutuhkan laboratorium yang benar-benar dekat atau berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sehingga kehadiran teori-teori tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat meskipun secara tahap demi tahap.
Penting menjaga keselarasan antara al-'ilmu dengan al-'amal atau antara teori dengan praktik agar terjadi hubungan mutualis antara produksi teori dengan produksi barang dan jasa. Dalam filsafat Barat dikenal adanya dialektika ide yang disandarkan kepada Hegelian pada satu sisi, dan dialektika material yang disandarkan kepada Marxis pada sisi lain. Ada pun keselarasan dua mazhab ini diyakini sebagai salah satu syarat melajunya pembangunan atau peradaban secara umum. Dalam konteks ini ISNU dituntut untuk membangun komunitas ilmiah lintas disipliner dan mengkolaborasikannya dengan para praktisi serta dunia kerja dalam berbagai bidang.
Ada juga yang mengusung keselarasan ilmu dan teknologi sebagai syarat majunyabsuatu peradaban dengan mendudukkan ilmu sebagai teori sedangkan teknologi merupakan aktualisasi dari teori. Meskipun cara berfikir ini pantas diperdebatkan, namun satu hal yang pasti padanya terdapat agenda-agenda mewadahi teori-teori untuk menjawab secara tehknik kebutuhan hidup manusia. Terhadap hal ini ISNU perlu hadir menjembatani kampus dengan dunia industri, kampus dengan pasar, serta kampus dengan sumberdaya alam dalm berbagai jenisnya.
Islam tepatnya al-Qur'àn menegaskan bahwa ilmu tidak boleh langsung disandingkan dengan amal atau ranah praktik. Melainkan imanlah yang boleh disandingkan dengan amal shaleh (àmanù wa 'àmilu al-shàlihàti). Poin pentingnya adalah, jika tanpa landasan iman, maka tidak ada jaminan bahwa temuan-temuan ilmiah akan melahirkan kebajikan bagi manusia dalam ranah aksiologis.
Inilah yang dialami oleh berbagai bangsa yang kemudian merasa bahwa kemajuan ilmu, teknologi justeru membuat manusia menjadi terasing dari fitrahnya. Dalam konteka ini ISNU mesti hadir untuk mengawal agar para sarjana pengemban teori serta praktisi di lapangan dan industri benar-benar memiliki iman yang mantap dan dapat dijadikan landasan bagi setiap teori dan aktualisasi ilmu pengetahuan di tengah kehidupan sosial. (Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Study Islam UIN Sumut, Medan)