Akademisi UMSU Soroti Gaya Komunikasi Menkeu dan Tantangan Komunikasi Massa Digital Pemerintahan
analisamedan.com - Gaya komunikasi Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa dinilai masih perlu diperkuat dari sisi kolaborasi lintas lembaga dan kedekatan dengan publik. Hal itu disampaikan Ketua Imamikom Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Roynanda Sinaga, M.I.Kom, usai mengikuti sidang tesis di Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi (Mikom) UMSU, Senin (28/10/2025).
Menurut Roy, gaya komunikasi Menkeu Purbaya selama ini menunjukkan karakter teknokratis dan lugas, namun belum sepenuhnya mengakomodasi aspek partisipatif yang menjadi tuntutan komunikasi publik di era digital.
"Gaya komunikasi Pak Purbaya sangat berbasis data dan logika kebijakan, ini penting untuk menunjukkan transparansi. Namun dalam konteks politik pemerintahan, komunikasi juga harus membangun persepsi yang inklusif dan koordinatif. Masyarakat kini menilai bukan hanya kebijakannya, tapi juga bagaimana pejabat menyampaikannya," ujar Roy.
Roy menilai, di tengah keterbukaan informasi, pejabat publik perlu lebih aktif menjelaskan kebijakan melalui saluran digital agar tidak memunculkan kesalahpahaman publik. "Kementerian Keuangan sebaiknya memanfaatkan media sosial untuk menjelaskan isu fiskal dengan cara ringan dan visual, seperti infografik dan video pendek. Ini lebih mudah diterima publik daripada bahasa teknis yang panjang," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Digiclub Medan, Gustan Pasaribu, M.I.Kom, yang juga mengikuti sidang tesis di kesempatan yang sama, menilai tantangan terbesar pemerintahan Prabowo Subianto justru terletak pada kemampuan mengelola komunikasi massa di ruang digital.
"Pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan konferensi pers atau rilis media. Komunikasi publik sekarang bergerak cepat di media sosial, dan persepsi publik terbentuk dari narasi yang viral, bukan hanya dari media resmi," ujar Gustan.
Ia menjelaskan, dalam komunikasi massa digital, pemerintah harus berperan sebagai pengelola narasi publik, bukan sekadar penyampai kebijakan. "Setiap kementerian perlu memiliki tim media digital yang bisa membaca tren percakapan publik di platform sosial. Dengan begitu, pemerintah dapat merespons isu lebih cepat sebelum menjadi krisis," kata Gustan.
Menurutnya, gaya komunikasi massa digital idealnya mengedepankan konsistensi pesan, kedekatan emosional dengan publik, serta transparansi data. "Pemerintahan Prabowo berpeluang kuat membangun komunikasi digital yang efektif jika mampu memadukan narasi nasionalisme dengan gaya yang humanis dan edukatif," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UMSU, Dr. Muhammad Thoriq, mengatakan sidang tesis kali ini diikuti oleh tiga mahasiswa, yakni Gustan Pasaribu, Roy Nanda Siaga, dan Oka Dedi Arwansyah. "Hasil sidang tesis ini telah membuka banyak wacana baru di bidang komunikasi dari hasil penelitian para mahasiswa," ujarnya.
Thoriq menambahkan, pihaknya berencana melakukan upgrading program pascasarjana agar hasil penelitian mahasiswa tidak hanya berhenti di meja akademik, tetapi dapat diaplikasikan dan dikaji lebih luas di masyarakat. "Ke depan, Mikom UMSU berniat membuat forum diskusi atau klinik komunikasi agar hasil tesis mahasiswa bisa dimanfaatkan secara praktis dan berkelanjutan," tutupnya.
PP Muhammadiyah Lantik Rektor dan Kukuhkan BPH UMSU Periode 2026–2030
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
PTMA Diminta Aktif Hidupkan IMM, FOKAL IMM Sumut Gelar Silaturahim dan Halal Bihalal di Medan
Kabiro AAKK : Peran Media Penting Bagi Kemajuan UIN Sumatera Utara
Mengungkap Rahasia di Balik Klik “Saya Setuju”: