Nazaya Zulaikha, Didaulat Jadi Duta Promosi Prefektur Saitama
analisamedan.com - Indonesia layak bangga. Pasalnya salah seorang warganya Nazaya Zulaikha (35) didaulat menjadi Duta Promosi Prefektur (setingkat provinsi di Indonesia) Saitama di negara Jepang sejak 1 Juni 2025. Nazaya bersama 19 duta lainnya dilantik langsung Gubernur Prefektur Saitama Mr. Oono Motohiro 20 Mei 2025 lalu di Saitama Prefectural Reception House, kota Saitama.
Nazaya juga menjadi perempuan dan muslimah pertama yang didaulat menjadi Duta Promosi Prefektur Saitama untuk periode 2025-2026. Dari 20 duta, Nazaya satu dari 2 duta asing yang dilantik. Hampir seluruh duta merupakan orang Jepang.
"Saya merasa senang bisa bertemu dengan para duta lainnya yang hampir semua orang Jepang. Hanya 2 orang asing. Dan saya satu-satunya yang muslim (muslimah)," ungkap Nazaya kepada analisamedan.com, saat dikonfirmasi melalui aplikasi whatsapp.
Nazaya yang sejak 2015 menetap di Jepang merupakan alumni strata 1 Fakultas Budaya Jurusan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara (USU) dan Pascasarjana USU Jurusan Lingustik, mengaku sangat bangga bisa menjadi Duta Promosi Prefektur Saitama.
Duta Promosi bertugas untuk mempromosikan Perfektur Saitama kepada beragam audien yang lebih luas dari berbagai sudut pandang dan Nazaya banyak mempromosikannya dari sudut pandang orang asing dan sebagai seorang muslimah tentang Prefektur Saitama.
Sebagai Duta Promosi, Nazaya bertugas mempromosikan Prefektur Saitama dan aktif mengikuti kegiatan prefektur seperti, mengambil video dan foto selanjutnya dipublikasikan melalui instagram pribadinya @nazayazulaikha serta berkolaborasi dengan akun resmi Prefektur Saitama.

Prefektur Unik
Sebagai duta yang bertugas mempromosikan Saitama, Nazaya mengaku sejak didaulat, semakin lebih banyak mengenal Prefektur Saitama yang memiliki banyak keunikan sehingga sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan khususnya dari Indonesia dan umat Islam.
Saitama meski tidak memiliki laut, tapi sangat kaya denga sungai. Salah satunya sungai Arakawa yang punya peran penting sejak zaman Edo (yakni, periode dalam sejarah Jepang yang berlangsung dari tahun 1603 hingga 1868, ditandai dengan pemerintahan Keshogunan Tokugawa di kota Edo sekarang Tokyo) dalam distribusi ke Tokyo.
Keunikan lainnya yang dimiliki Prefektur Saitama adalah teh khas 'Sayama' yang merupakan 3 teh terbaik di Jepang, karena rasanya yang kental dan kuat.
Prefektur Saitama juga punya keseimbangan menarik antara pedesaan dan perkotaan sehingga menjadi faktor aman dan nyaman untuk ditinggali. "Aman banget untuk ditinggali," jelas Nazaya.
Tantangan Tersendiri
Dalam tugas-tugasnya sebagai duta promosi prefektur Saitama, Nazaya mengaku mendapat tantangan tersendiri. Terlebih dirinya sebagai satu-satu duta yang muslimah. Namun itu justru memberikan kesempatan pada dirinya untuk berbagi perspektif sebagai orang asing dan juga sebagai muslim yang tinggal di Jepang."Menjadi duta membuat saya semakin ingin mengenalkan Saitama khususnya ke wisatawan Indonesia dan muslim," ungkapnya.

Nazaya dalam salah satu kegiatannya sebagai duta promosi prefektur Saitama
Nazaya mengaku justru terdorong dengan tantangan tersebut untuk terus menemukan ide dan menyampaikan topik Saitama dari sudut pandang yang fresh sesuai kebutuhan followernya di instragram.
"Karena sudah lama tinggal di Jepang, kadang saya terbiasa dengan hal-hal yang sebenarnya menarik bagi wisatawan. Jadi saya harus terus mengingatkan diri untuk melihat dari sudut pandang pendatang dan merangkai konten yang informatif yang ramah muslim dan menarik bagi follower saya tadi," paparnya.
Nazaya berharap lebih banyak wisatawan muslim, terutama wisatawan Indonesia, yang mengunjungi dan menikmati keindahan Saitama yang masih belum banyak diketahui wisatawan asing. *
Indonesia Masuk Semifinal Usai Taklukkan Vietnam
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Nasional, Farid Wajdi Desak Audit Forensik Menyeluruh
Garuda Muda Indonesia Unggul 3-0 dari Tim Myanmar
PWI Sumut Tebar Kepedulian Iduladha 1447 H, Sembelih 4 Sapi dan 2 Kambing
Blackout dan Efek Domino: Pentingnya Protokol Komunikasi Krisis yang Terintegrasi