Ini Alasan KH Bahauddin Mundur dari Rois PWNU Sumut, Posisi Diisi KH Abdul Hamid Ritonga
"Karena itulah saya terpilih di Madina di waktu konferensi yang baru lalu menjadi Rais Syuriyah. Di situ ada pertimbangan langsung ketua PWNU menanyakan saya mana saya pilih PW atau PC. Maka saya memilih PC karena saya bertempat di Madina," ujarnya.
Ketentuan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU, dan Peraturan PBNU memang melarang pengurus merangkap jabatan pada berbagai tingkatan kepengurusan. Atas dasar itu, Bahauddin memutuskan melepas jabatannya di PWNU Sumatera Utara dan fokus mengurus PCNU Mandailing Natal.
"Saya memilih PC karena saya bertempat di Madina, lebih dekat, lebih cepat kalau ada urusan-urusan. Karena itulah kawan-kawan semua, dengan jelasnya surat pengunduran saya sudah saya berikan sama ketua PW, untuk administrasi. Dan mulai dari tanggal itu saya menjadi Rais Syuriyah di Madina, tidak lagi di PW," tegasnya.
Menurut penjelasannya dalam rekaman itu, pengunduran diri Bahauddin dari kursi Rois PWNU Sumatera Utara berlaku efektif sejak 6 Oktober 2025.
Rapat pleno yang digelar akhir pekan lalu itu dipimpin oleh KH Abdul Hamid Ritonga bersama H. Marahalim Harahap. Rapat turut dihadiri unsur Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU, para ketua badan otonom, serta ketua lembaga di lingkungan PWNU Sumatera Utara.
Forum rapat pleno akhirnya menerima hasil Rapat Syuriyah PWNU Sumatera Utara tertanggal 23 Januari 2026 dan menetapkan KH Abdul Hamid Ritonga sebagai Rois PWNU Sumatera Utara untuk melanjutkan sisa masa khidmat periode 2022-2027. (sug)
Rois PWNU Sumut Diganti, Ini Sosok Penggantinya
Polrestabes Medan Tetapkan Dua Perempuan Tersangka Kasus Dugaan Penghasutan Bunuh Diri di Apartemen Sky View
Volume Penumpang Kereta Api di Deli Serdang Melonjak, Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah
Sepekan Libur Sekolah, KAI Divre I Sumut Layani 58 Ribu Lebih Pelanggan
UINSU Medan Sukses Tembus Peringkat Dunia