Berkurbanlah !
analisamedan.com - Dalam lintas sejarah Islam, syariat ibadah penyembelihan hewan kurban yang dilakukan umat Islam setiap hari raya Iduladha berawal dari peristiwa sakral tatkala Nabi Ibrahim as menerima wahyu dari Allah Swt melalui mimpi agar menyembelih putra kesayangannya Ismail yang sudah baligh.
Perintah yang dinilai manusia tidak masuk akal karena hanya melalui mimpi ini akhirnya dilaksanakan Nabi Ibrahim as dengan kemantapan iman sebagai ketaatan kepada Sang Khalik. Apa lagi Nabi Ibrahim as digelar 'khalilullah' yang berarti 'kekasih Allah'.
Dan luar biasanya lagi, Nabi Ismail as yang kala itu masih remaja menunjukkan kemantapan imannya dengan tidak banyak bertanya apa lagi membantah atau mencari legalisasi lain agar dirinya tidak disembelih.
Jawabannya justru mencengangkan ketika ia mempersilahkan ayahnya Nabi Ibrahim as untuk melaksanakan perintah Allah Swt agar menyembelihnya tanpa keraguan. Bahkan jawaban Nabi Ismail as kala itu justru membuat keteguhan hati ayahnya Nabi Ibrahim as semakin kuat.
Dialog ini diabadikan Allah Swt dalam Alquran surat Alsaffat ayat 120 yang artinya : "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar."
Aktualisasi Keimanan
Berkurban dalam arti syariat yakni, menyembelih hewan seperti, kambing, sapi atau unta yang dilaksanakan pada 10 Zulhijjah setelah salat sunah Iduladha dan tiga hari setelahnya 11, 12 dan 13 yang disebut "Hari-hari tasyrik".
Namun makna luas dari berkurban adalah sikap seorang muslim yang taat dalam mengaktualisasikan keimanannya kepada Allah Swt sehingga apa pun yang ia lakukan mengacu kepada niat 'karena Allah' sebagai bentuk 'penghambaan' sebagaimana tujuan Sang Khalik menciptakan manusia.
Hal ini termaktub dalam Alquran di dalam surat Alzariyaat ayat 56 yang artinya : "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku".
Berkurban bukan korban. Tapi belajar mengorbankan kelayakkan untuk dipersembahkan kepada Sang Mahapenyayang. Sekal lagi, berkurban bukan korban. Tapi sebagai bentuk kesalehan sebagai hamba yang punya kewajiban apa pun bentuk yang dipinta Allah Swt sebagai Pemilik jiwa manusia meski pun jiwa itu sendiri yang dipinta-Nya.
Sejenak kita pahami bagaimana Nabi Ismail as dengan kemantapan imannya menyerahkan jiwanya untuk Allah Swt tanpa syarat. Tidak ada keraguan di hatinya karena hakikat berkurban bukan korban. Melainkan kenikmatan dalam merasakan cinta-Nya.
Bagi Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, ketaatan kepada Sang Mahapengasih lebih indah dari kenikmatan dunia. Dan karena keimanannya itu Allah Swt menganugerahi Nabi Ibrahim as kemuliaan di dunia dan kemuliaan di sisi-Nya.
Hal ini Allah Swt langsung jelaskan dalam Alquran dengan menyebut Nabi Ibrahim sebagai 'mukmin' sempurna yang lulus ujian sebagai hamba-Nya. Bahkan mendapat panggilan kehormatan dari Allah dengan seruan "Salamun Ala Ibrohim" (keselamatan atas Ibrahim).
Kemuliaan ini juga diberikan Allah Swt di kehidupan dunia dengan pujian dari umat manusia sepanjang zaman. Salah satunya lewat ibadah menyembelih hewan kurban yang terus dilakukan umat Islam sampai hari Kiamat tiba.
Kebahagiaan di dunia pun Allah Swt berikan lewat penggantian Nabi Ismail as dengan seekor kibas sehingga sempurna pula kebahagiaan dunianya dengan tetap bisa menyaksikan dan membersamai putra kesayangannya Nabi Ismail as dalam kehidupam di dunia.
Firman Allah Swt : "Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah). Kami memanggil dia, "Wahai Ibrahim. Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian. "Salam sejahtera atas Ibrahim." Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin". (Q.S. Alsaffat : 103-111).
Berani Berkorban
Peristiwa keteladanan dari ayah dan anak ini merupakan pelajaran penting bagi kita dalam menjalani kehidupan ini yang seharusnya berlangsung pula dengan kemantapan iman. Kalau pun hari ini kita harus berkorban, tapi tidak akan seberat pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.
Setidaknya dalam menjalani kehidupan ini, kita berani berkorban lima hal yakni, waktu, tenaga, pikiran, harta dan perasaan. Waktu yang kita jalani dalam kehidupan di dunia ini hanya sementara. Semua kita akan mati dan kembali kepada-Nya karena kita memang milik-Nya.
Karena itu, selagi nafas masih berhembus, itu artinya Allah Swt masih memberikan kesempatan kita untuk bertobat guna mempersiapkan bekal kembali kepada-Nya.
Tenaga yang Allah Swt anugerahkan juga harus kita dedikasikan untuk kebaikan. Pikiran-pikiran maju juga harus didedikasikan untuk menebar kebaikan serta kebermanfaatan untuk orang banyak beralaskan karena Allah.
Lalu harta yang Allah Swt titipkan pun harus bisa kita manfatkan sebagai bekal. Lihat kanan, kiri, depan dan belakang rumah kita. Adakah orang-orang miskin dan anak yatim yang terlantar atau meringis menahan lapar karena tidak ada yang bisa di makan ?
Bila ada, berkurbanlah dengan mengorbankan harta yang hakikinya juga titipan Alllah Swt Sang Mahakaya dan Mahapemberi kekayan.
Bukankah Nabi Muhammad Saw mengisyaratkan dalam hadisnya, "Sebaik-baik manusia memberikan manfaat kepada orang lain". Itu artinya, seorang muslim yang tidak memberikan manfaatkepada sekitarnya belum menjadi orang yang terbaik."
Begitu juga pengorbanan terhadap perasaan yang kadang kala terasa berat untuk menafikan rasa berjasa, rasa paling benar, punya kekuasaan, rasa hebat dengan harta yang melebihi orang lain.
Bahkan mengorbankan perasaan sangat berat. Masih ingin dipuji sebagai yang terbaik dan terhebat. Terlebih menanggalkan rasa sakit hati ketika karyanya diakui milik orang lain serta rasa-rasa yang membuat nilai keikhlasan luntur bahkan hilang.
Makna dari berkurban menguatkan keimanan kita untuk berani berkorban untuk Allah Swt karena pengorbanan kita itu sendiri akan Allah Swt kembalikan kepada kita melebih dari apa yang telah kita korbankan.
Maka berkurbanlah ! Wallahul muwafiq Ilaa aqwamit thoriq
Halal Bihalal dan Tasyakuran Milad ke-15 “Ummu Rahmah”
Pantai Pondok Permai Jadi Destinasi Tujuan Wisata Favorit
IRMAJA Kubahsentang 'Tadabur Alam' di Pantaicermin Themepark
Bencana dalam Nikmat
Hakikat Alhamdulillah