Dari Serabi ke Baitullah, Perjalanan Hati Nek Marni Menuju Tanah Suci
analisamedan.com -Tak ada yang benar-benar tahu jalan takdir, kecuali mereka yang setia menunggu dengan sabar. Seperti itulah kisah Marni binti Poksum, perempuan 68 tahun yang akhirnya menginjakkan kaki di Asrama Haji Medan, Selasa (20/5/2025), untuk memulai perjalanan suci ke Baitullah.
Nek Marni, begitu ia biasa disapa, bukanlah tokoh besar atau pemilik usaha sukses. Ia hanya penjual serabi keliling dari Kota Tebing Tinggi yang telah menapaki kerasnya kehidupan selama lebih dari dua dekade. Setiap pagi, ia menyusun harapan di atas wajan, menata keyakinan di atas loyang, lalu mengayuh semangat menjajakan serabi dari satu sudut kota ke sudut lain.
"Pernah jual mie sop, lemang, lalu beralih ke serabi. Sedikit demi sedikit ditabung dari hasil jualan. Anak-anak juga bantu," tutur Nek Marni dengan suara pelan namun penuh keteguhan.
Keinginannya untuk berhaji tumbuh sejak lama. Tahun 2012, ia mendaftar bersama anaknya, Agus Suhendra. Sejak saat itu, penantian panjang dimulai. Tahun lalu, ia sempat berada di ambang keberangkatan. Namun, takdir berkata lain. Namanya tak masuk dalam daftar akhir.
"Belum rezeki, pikir nenek waktu itu. Allah pasti tahu waktu terbaiknya," katanya sembari tersenyum, mengenang masa itu.
Dan tahun ini, penantian itu akhirnya terjawab. Nek Marni tercatat sebagai jemaah haji Kloter 16 Embarkasi Medan bersama 116 jemaah asal Kota Tebing Tinggi. Ia berangkat dari Asrama Haji pada 20 Mei dan dijadwalkan terbang ke Jeddah pada 21 Mei tengah malam.
Namun sebelum keberangkatan itu, cobaan kembali menghampiri. Tujuh bulan lalu, ia terjatuh. Kakinya lemah. Ia tak lagi mampu berjualan serabi. Bahkan sempat terbersit kekhawatiran: apakah ia bisa berpuasa dan menjalankan ibadah haji dengan kondisi itu?
"Tiga hari sebelum Ramadan, nenek sungguh-sungguh minta sama Allah. Ya Allah, izinkan aku sehat, kuat untuk puasa, untuk tarawih, untuk ibadah haji," ucapnya, suara tercekat oleh haru.
Doanya terjawab. Kesehatannya berangsur membaik. Ia kembali bisa berjalan. Ia kembali bisa bermimpi.
Sejak ditinggal suami tercinta pada 2018, Nek Marni hanya bertumpu pada cinta dan dukungan dari lima anak dan tiga belas cucunya. Mereka adalah sumber semangat yang tak pernah padam. Mereka pula yang ikut menyemai harapan, ketika langkahnya nyaris goyah.
"Tak pernah terlintas membatalkan niat haji. Meski ada yang bilang, umroh aja, lebih cepat. Tapi haji itu wajib. Nenek mau menunaikan kewajiban ini meskipun harus menunggu," tegasnya, mantap.
Kini, serabi-serabi yang dulu hanya menjadi penghidupan, menjadi saksi dari perjalanan besar hati seorang perempuan sederhana menuju tanah impian umat Islam. Tak ada kemewahan, tapi ada kemuliaan. Tak ada sorot lampu, tapi ada cahaya harapan yang tak pernah padam.
"Nenek cuma ingin sampaikan, kalau sudah ada niat, daftar saja. Jangan tunggu tua, jangan tunggu kaya. Allah yang akan cukupkan kalau kita sungguh-sungguh," pesannya, bijak.
Kisah Nek Marni adalah kisah tentang ketulusan. Tentang bagaimana keikhlasan dan ketekunan mampu menembus batas usia, keterbatasan fisik, dan sempitnya ekonomi. Ia menunjukkan bahwa jalan menuju Tanah Suci bisa dimulai dari dapur sederhana, dari keringat seorang ibu, dari tangan yang membalik serabi satu per satu.
Ini bukan hanya cerita tentang haji, tapi tentang harapan yang tidak pernah padam, tentang cinta yang tidak pernah menua. Dan dari sudut kecil kota Tebing Tinggi, seorang nenek sederhana telah mengajarkan kita bahwa impian besar bisa digapai oleh siapa saja—asal hatinya cukup kuat untuk menunggu dan percaya.
356 Jemaah Haji Kloter 14 Debarkasi Medan Disambut Haru di Ahmed
Sambut Jamaah Haji, Wako Harry Pahlevi: Selamat Datang, Selamat Berkumpul Bersama Keluarga
Jamaah Haji Asal Padangsidimpuan Dijadwalkan Tiba Senin Malam di Balai Kota
Universitas Medan Area Sembelih 24 Ekor Lembu dan 2 Ekor Kambing pada Iduladha 1447 H
Kakanwil Kemenhaj Sumut Berangkatkan Kloter Pamungkas Embarkasi Medan