Saat Tambang Menanam Hutan, Konservasi Martabe dalam Aksi ESG

Oleh : Sugiatmo (Pimpinan Redaksi Analisamedan.com
Sugiatmo - Minggu, 07 September 2025 21:23 WIB
Saat Tambang Menanam Hutan, Konservasi Martabe dalam Aksi ESG
analisamedan/dok.PT AR

analisamedan.com - Di tengah hamparan perbukitan tropis Sumatera Utara, suara alam berpadu dengan denting mesin tambang. Di sinilah Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources berdiri, membawa janji keberlanjutan lewat konsep Environmental, Social, and Governance (ESG). Namun, janji itu diuji: apakah eksploitasi emas bisa benar-benar berjalan beriring dengan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati?

Bukan sekadar jargon, Martabe mengklaim telah menjalankan progressive rehabilitation—teknik pemulihan lahan bekas tambang yang dilakukan bersamaan dengan proses produksi. Lahan-lahan yang selesai digunakan ditanami kembali dengan vegetasi asli, dengan target mengembalikan fungsi hutan tropis dan habitat satwa endemik.

Sejak 2020, perusahaan meluncurkan Laporan Keanekaragaman Hayati yang merinci data flora-fauna di sekitar tambang hingga Juni 2024. Program revegetasi, pemetaan sosial-biodiversitas, hingga pemantauan rutin populasi burung, mamalia kecil, dan tumbuhan langka dilakukan secara berkala.

Meski begitu, tak semua pihak melihat cerita yang sama. Kelompok konservasi menyoroti risiko aktivitas tambang terhadap habitat Orangutan Tapanuli, salah satu spesies kera besar paling langka di dunia. Kritik ini bahkan pernah sampai ke ranah internasional, mendorong sebagian investor besar meninjau ulang dukungan mereka terhadap proyek tambang di kawasan Batangtoru.

Kekhawatiran itu menegaskan satu hal: praktik konservasi harus benar-benar transparan. Publik butuh data terbuka, audit independen, dan keterlibatan ilmuwan yang bebas konflik kepentingan untuk memastikan upaya perlindungan biodiversitas tidak sekadar dokumen.

Selain rehabilitasi lahan, Martabe juga menggelar program penghijauan bersama masyarakat, penanaman ribuan bibit, serta pelatihan teknik konservasi bagi warga sekitar. Program ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal sosial menciptakan kesadaran ekologis di tengah komunitas yang hidup berdampingan dengan tambang.

Meski penghargaan di bidang lingkungan telah diraih perusahaan, tantangan nyata masih terbentang: menjaga keseimbangan antara produksi emas, keberlangsungan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat.

Peran media massa menjadi penting sebagai jembatan informasi: menyampaikan capaian perusahaan sekaligus menjadi pengawas kritis. Liputan investigatif tentang dampak lingkungan, pemberitaan mengenai program rehabilitasi, hingga ruang diskusi publik tentang keberlanjutan tambang menjadi bagian dari fungsi pers dalam demokrasi lingkungan.

Masayarakat jugadilibatkan melalui program penghijauan bersama, penanaman ribuan bibit, serta pelatihan teknik konservasi bagi warga sekitar. Program ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal sosial , namun menciptakan kesadaran ekologis di tengah komunitas yang hidup berdampingan dengan tambang.

KehadiranTambang Martabe adalah gambaran nyata tarik-menarik antara industri dan alam. ESG hadir sebagai jalan tengah, tetapi implementasinya butuh keterbukaan, pengawasan publik, dan peran aktif media.

Apabila semua pihak yakni perusahaan, masyarakat, ilmuwan, pemerintah, dan media berjalan seirama, maka harmoni antara tambang, manusia, dan hutan bukanlah ilusi. Ia bisa menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. (Tulisan ini diukutsertakan dalam lomba Karya Jurnalistik 2025 PT Tambang Emas Martabe)

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru