Sosok Baida Rani: Pelita dari Pedalaman Humbahas
analisamedan.com -Kabut pagi masih bergelayut tebal di antara pepohonan lebat dan jalanan berbatu yang licin karena hujan semalam. Di tengah suasana yang dingin dan sepi, langkah kaki seorang perempuan muda terdengar mantap. Dengan tas ransel menggantung di punggung dan senyum yang tak lekang di wajah, ia menembus hutan kecil menuju madrasah tempatnya mengabdi.
Namanya Baida Rani, perempuan kelahiran 1995 asal Aek Nabara, Labuhan Batu. Sebelum mengenakan seragam Kementerian Agama, ia pernah mengajar di SMA dan SMK swasta di Tanjung Morawa. Rani bukan hanya guru biasa. Ia adalah sosok yang menemukan semangat hidupnya lewat buku-buku dan cerita inspiratif, terutama dari sosok dr. Aisah Dahlan, dokter yang dikenal dengan pemikirannya tentang psikologi dan neuroparenting.
Kini, Rani adalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang ditugaskan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Humbang Hasundutan, tepatnya di desa terpencil bernama Parmonangan, Kecamatan Pakkat. Sebuah lokasi yang mungkin asing bagi banyak orang, namun telah menjadi ladang pengabdian penuh makna bagi Rani.
Partai Gema Bangsa Sumut Dukung Gagasan Pembentukan Kementerian Transportasi dan Logistik
Bedah Buku Reformasi Sistem Transportasi dan Logistik Nasional : Integrasi Kebijakan Dinilai Kunci Efisiensi Distribusi
Doa Bersama Lintas Agama, Kapolrestabes Medan: Kebersamaan dan Toleransi Pilar Keharmonisan Kota Ini
Jelang Musda MUI Sumut : Dr. Hatta Dorong MUI Sumut Jadi Penjaga Harmoni dan Mitra Moral Pemerintah
Hadiri Seminar Internasional di UIN Sumut, Menteri Agama : Indonesia Miliki Kepala Negara yang Hebat