Sosok Baida Rani: Pelita dari Pedalaman Humbahas

Gustan Pasaribu - Sabtu, 19 Juli 2025 08:57 WIB
Sosok Baida Rani: Pelita dari Pedalaman Humbahas
dok.analisamedan.com
Namanya Baida Rani, perempuan kelahiran 1995 asal Aek Nabara, Labuhan Batu. Sebelum mengenakan seragam Kementerian Agama, ia pernah mengajar di SMA dan SMK swasta di Tanjung Morawa.

analisamedan.com -Kabut pagi masih bergelayut tebal di antara pepohonan lebat dan jalanan berbatu yang licin karena hujan semalam. Di tengah suasana yang dingin dan sepi, langkah kaki seorang perempuan muda terdengar mantap. Dengan tas ransel menggantung di punggung dan senyum yang tak lekang di wajah, ia menembus hutan kecil menuju madrasah tempatnya mengabdi.

Namanya Baida Rani, perempuan kelahiran 1995 asal Aek Nabara, Labuhan Batu. Sebelum mengenakan seragam Kementerian Agama, ia pernah mengajar di SMA dan SMK swasta di Tanjung Morawa. Rani bukan hanya guru biasa. Ia adalah sosok yang menemukan semangat hidupnya lewat buku-buku dan cerita inspiratif, terutama dari sosok dr. Aisah Dahlan, dokter yang dikenal dengan pemikirannya tentang psikologi dan neuroparenting.

Kini, Rani adalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang ditugaskan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Humbang Hasundutan, tepatnya di desa terpencil bernama Parmonangan, Kecamatan Pakkat. Sebuah lokasi yang mungkin asing bagi banyak orang, namun telah menjadi ladang pengabdian penuh makna bagi Rani.

Perjalanan pengabdiannya dimulai sejak ia lulus seleksi CPNS pada tahun 2024. Awalnya, ia tidak menyangka akan ditempatkan di madrasah yang hanya bisa dicapai dengan sepeda motor trail atau berjalan kaki selama puluhan menit. Akses jalan rusak, sinyal telekomunikasi yang nyaris nihil, dan fasilitas pendidikan yang terbatas menjadi keseharian yang harus ia hadapi. Namun, semua itu bukan alasan untuk menyerah.

"Awalnya saya kaget, karena harus jauh dari suami dan keluarga, dan fasilitas serba terbatas. Tapi ketika melihat semangat anak-anak untuk belajar, semua rasa lelah itu hilang," ucap Rani dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh semangat.

Madrasah tempatnya mengajar hanya memiliki ruang kelas sederhana. Sebagian siswa harus duduk berdesakan karena minimnya meja dan kursi. Namun keterbatasan itu tidak pernah meredupkan semangat belajar para siswa. Setiap hari, mereka datang dengan berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer, hanya untuk menuntut ilmu.

Sebagai guru kelas, Rani tidak hanya mengajar di depan papan tulis. Ia juga menyusun program belajar tambahan untuk siswa yang tertinggal, membantu guru senior, bahkan terlibat dalam kegiatan sosial dan pembangunan lingkungan madrasah. Mulai dari membersihkan halaman, menanam pohon, hingga memperbaiki bangunan kelas yang rusak.

"Saya merasa inilah bentuk nyata dari pengabdian sebagai guru. Bukan hanya mengajar, tapi juga ikut membangun karakter dan semangat anak-anak di sini," ujarnya sambil tersenyum.

Tak jarang, Rani juga berbagi semangat dan ilmu bersama guru-guru muda lainnya yang ditempatkan di wilayah terpencil. Mereka membentuk komunitas kecil, saling mendukung, bertukar bahan ajar, dan menguatkan tekad untuk terus bertahan dan memberi yang terbaik.

Kepala Madrasah tempat Rani mengajar, Ridawati Sinaga, S.Pd, mengaku bangga dengan dedikasi para guru muda seperti Rani. "Mereka adalah pahlawan sejati. Datang dengan hati, bekerja dengan ikhlas, dan memberi harapan bagi generasi penerus bangsa," tutur Ridawati.

Kementerian Agama pun menaruh perhatian serius pada para CPNS guru yang bertugas di wilayah 3T—Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Mereka adalah harapan untuk menyalakan cahaya pendidikan di wilayah yang selama ini terpinggirkan. Meski harus melawan dinginnya kabut, hujan deras yang mengguyur tanpa ampun, dan rindu yang sering membuncah kepada suami dan keluarga, Rani tetap bertahan. Ia memilih jalan pengabdian ini bukan karena keterpaksaan, melainkan karena panggilan jiwa.

"Saya percaya, pendidikan adalah kunci perubahan. Jika kita mau bergerak dan mengajar dari hati, maka perubahan itu akan nyata, meski dimulai dari pelosok terpencil," ucapnya tegas.

Semangat Rani adalah cerminan dari ribuan guru muda lainnya di seluruh pelosok nusantara. Di tengah keterbatasan, mereka hadir membawa harapan. Suara mereka mungkin tak terdengar nyaring di kota, tapi di desa-desa terpencil seperti Parmonangan, gema semangat mereka mengguncang: "Kami ada untuk mengabdi."

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru