Sosok Baida Rani: Pelita dari Pedalaman Humbahas
Perjalanan pengabdiannya dimulai sejak ia lulus seleksi CPNS pada tahun 2024. Awalnya, ia tidak menyangka akan ditempatkan di madrasah yang hanya bisa dicapai dengan sepeda motor trail atau berjalan kaki selama puluhan menit. Akses jalan rusak, sinyal telekomunikasi yang nyaris nihil, dan fasilitas pendidikan yang terbatas menjadi keseharian yang harus ia hadapi. Namun, semua itu bukan alasan untuk menyerah.
"Awalnya saya kaget, karena harus jauh dari suami dan keluarga, dan fasilitas serba terbatas. Tapi ketika melihat semangat anak-anak untuk belajar, semua rasa lelah itu hilang," ucap Rani dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh semangat.
Madrasah tempatnya mengajar hanya memiliki ruang kelas sederhana. Sebagian siswa harus duduk berdesakan karena minimnya meja dan kursi. Namun keterbatasan itu tidak pernah meredupkan semangat belajar para siswa. Setiap hari, mereka datang dengan berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer, hanya untuk menuntut ilmu.
Sebagai guru kelas, Rani tidak hanya mengajar di depan papan tulis. Ia juga menyusun program belajar tambahan untuk siswa yang tertinggal, membantu guru senior, bahkan terlibat dalam kegiatan sosial dan pembangunan lingkungan madrasah. Mulai dari membersihkan halaman, menanam pohon, hingga memperbaiki bangunan kelas yang rusak.
Doa Bersama Lintas Agama dan Syukuran di Polrestabes Medan, Wujud Apresiasi May Day Kondusif
Ketua ATLI Muspriadi Serahkan Buku Reformasi Transportasi kepada Utusan Khusus Presiden di Sergai
Partai Gema Bangsa Sumut Dukung Gagasan Pembentukan Kementerian Transportasi dan Logistik
Bedah Buku Reformasi Sistem Transportasi dan Logistik Nasional : Integrasi Kebijakan Dinilai Kunci Efisiensi Distribusi
Doa Bersama Lintas Agama, Kapolrestabes Medan: Kebersamaan dan Toleransi Pilar Keharmonisan Kota Ini