Peringati HPN, PWI Gelar Seminar "Selamatkan Planet Bumi Melalui Penerapan Prinsip ESG"

Sugiatmo - Minggu, 18 Februari 2024 21:31 WIB
Peringati HPN, PWI Gelar Seminar "Selamatkan Planet Bumi Melalui Penerapan Prinsip ESG"
analisamedan/sugiatmo
Guru Besar Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, Tenaga Ahli PT Agincourt Resources, Prof Dr Ir Nampiah, menerima cendera mata usai menyampaikan paparan berjudul "Peran Mikoriza Dalam Pembentukan Stok Karbon di Daratan untuk Mengurangi Efek Pemanasan Global" dalam acara seminar nasional rangkaian HPN, di Candi Bentar, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (18/02/2024)

analisamedan.com - Dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menggelar seminar bertajuk "Selamatkan Planet Bumi Melalui Penerapan Prinsip ESG" di Candi Bentar, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (18/02/2024).

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2024 yang berlangsung sejak tanggal 17 hingga 20 Februari 2024 dengan tema "Mengawal Transisi Kepemimpinan Nasional dan Merawat Keutuhan Bangsa".

Ketua Bidang Kerjasama dan Kemitraan PWI Pusat,Muhammad Sarwani, yang mewakili Ketua Umum PWI Pusat, menyampaikan alasan pemilihan tema ESG (Environmental Social Governance) dalam seminar tersebut.

Menurutnya, meskipun ESG masih tergolong baru bagi insan pers, namun konsep tersebut memiliki pentingnya tersendiri karena telah menjadi standar global dan syarat penting bagi banyak lembaga dan perusahaan.

"Ini memang mungkin bagi sebagian kami para awak media ini barang baru, tapi sangat penting karena ini sudah menjadi standar global dan ini menjadi syarat bagi banyak lembaga maupun perusahaan," kata Sarwani.

Wakil Sekjen I PWI Pusat Raja Pane Serahkan 10.000 Bibit Pohon ke Ancol.


"Tapi dengan adanya ESG, keyakinan investor bahwa satu perusahaan satu usaha itu menjalankan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, tapi sekaligus juga itu menjalankan fungsi sosial pada masyarakat, dan secara finansial itu juga menjadikan perusahaan itu menjadi lebih efisien dan pada akhirnya profit yang didapat oleh perusahaan menjadi lebih baik," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian LHK, Agus Justianto, menyampaikan beberapa pesan terkait keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia.

Agus menggarisbawahi pentingnya investasi untuk transisi dan dekarbonisasi sektor energi sebagai upaya mempercepat peradaban Indonesia yang berkelanjutan, serta memperkuat aspek perencanaan, pengawasan, dan pengendalian melalui berbagai mekanisme, termasuk Amdalnet.

"Carbon market, carbon pricing, harus menjadi bagian dari upaya penanganan isu global iklim. Ekosistem ekonomi karbon yang transparan, terintegritas, inklusif dan adil harus diciptakan," katanya.

Dalam penutupannya, Agus menekankan perlunya komitmen dari semua pihak, termasuk insan pers, dalam menyampaikan informasi yang mencerdaskan bangsa, seiring dengan tuntutan tantangan saat ini dan masa depan yang menuntut kesiapan dalam menghadapi perubahan global serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Sementara Guru Besar Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, Tenaga Ahli PT Agincourt Resources, Prof Dr Ir Nampiah, dalam paparannya berjudul "Peran Mikoriza Dalam Pembentukan Stok Karbon di Daratan untuk Mengurangi Efek Pemanasan Global" mengatakan,mikoriza menjadi kunci penghubung dari sumber karbon yang tinggi di bawah tanah (below-ground) menuju rantai makanan yang terjadi di atas tanah (above-ground).


Disebutkan, Mikoriza berperan penting dalam penurunan CO2 di atmosfer melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan inangnya.

Manfaat mikoriza terhadap reklamasi lahan bekas tambang dan keberlanjutan ekosistem hutan yaitu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, meningkatkan kelangsungan hidup dan keanekaragaman tumbuhan, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik, mengurangi kebutuhan pupuk dan irigasi, jaringan miselium: komunikasi tumbuhan, mencegah kerusakan dari logam berat dan polutan lainnya, berkontribusi terhadap penyerapan karbon.

Menurut Prof Nampiah, cendawan mikoriza penting digunakan untuk menciptakan lingkungan kehutanan yang sehat dan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, katanya, tanaman lokal yang telah disuntikkan mikoriza di area reklamasi PTAR antara lain mahang, simarbaliding, tampu gajah, sanduduk, durian, jottik-jottik, sengon, dan waru.

Seminar itu menghadirkan nara sumber antara lain : Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Yanuar Nugroho, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara, Myrna A. Safitri, Senior Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, Syahrul Fitra, Guru Besar Tetap Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, Tenaga Ahli PT Agincourt Resources, Prof. Dr. Ir. Nampiah.

Seminar ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, terutama insan pers, akan pentingnya menerapkan prinsip ESG dalam segala aspek kehidupan untuk menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan planet Bumi bagi generasi yang akan datang.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru