Perjalanan Panjang Bang Marahalim Harahap Raih Gelar Doktor
Berbekal kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan pada hakikatnya menjadi tantangan nyata baginya, di mana beliau tidak memiliki skill yang begitu banyak untuk lebih kuat hidup di tengah masyarakat kota Medan yang identik dengan kekerasan dan premanisme, melainkan hanya menjadi seorang ustadz yang tinggal menumpang di masjid serta melakukan kegiatan mengajar ngaji sebagai upaya penambah amunisi kehidupan keseharian beliau.
Lebih dari itu, beliau pernah berupaya meningkatkan pendapatan harian menyikapi perkuliahan yang membutuhkan rupiah yang banyak hingga beralih kerja menjadi tukang becak di Kota Medan, akan tetapi hal tersebut tak berjalan lancar dan lama mengingat basic aslinya hanya seorang ustad dan guru ngaji serta tak siap menikmati kerasnya hidup di atas aspal dan di bawah matahari.
Namun sikap ikhlas dan sabar yang diajarkan di Pesantren serta pesan Thariq bin Zaid saat menjadi panglima perang "in shabartum 'ala al-asyaqqi qalilan, fastamta'tum 'ala alazzi thawilan" terus beliau jadikan sebagai trik dalam menyikapi kehidupan hingga akhirnya mulai menikmati manisnya.
Hingga pada saat beliau melanjutkan studinya jenjang magister di almamater yang sama dalam bidang hukum, beliau tidaklah lagi hanya sebatas guru mengaji dari rumah ke rumah namun menjadi seorang dai kondang yang masyhur dan disenangi masyarakat di Kabupaten Deli Serdang.
Lebih dari itu, dengan kemasyhuran beliau dan banyaknya masyarakat Deli Serdang yang menyenangi serta mengagumi, pada tahun 2009 beliau diamanatkan masyarakat Deli Serdang sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara. Kedudukannya menjadi seorang wakil dewan tidaklah membuatnya menjadi sosok yang enggan bergaul dan bermasyarakat juga syiar agama, namun momen tersebut ia jadikan sebagai wadah berkomununikasi dengan para tokoh luar biasa yang saling support dalam hal syiar dan memperhatikan maslahat umat.
Perhatiannya terhadap maslahat umat tak berhenti begitu masa jabatan sebagai wakil rakyat berakhir, melainkan upaya syiar terus beliau kembangkan walau sesekali harus menggunakan ekonomi rumah tangga. Status beliau sebagai dai yang tidak ASN, menuntutnya terus berjuang sungguh-sungguh dengan tetap memperhatikan komunikasi dan relasi yang baik dengan para tokoh agama dan tokoh publik, hingga akhirnya ia semakin akrab dengan keluarga seorang tokoh dan sosok agamis yang dermawan bernama Musa Rajeksah dan tetap saling support dalam kebaikan.
Di sisi lain, beliau mengikrarkan diri untuk istiqamah memperjuangkan umat dengan bergabung sebagai pengurus di Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini, amanah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama beliau awali dari jenjang terbawah sebagai Pengurus Ranting NU, MWC (Majelis Wakil Cabang) NU Kec. Medan Selayang, kemudian menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Medan hingga PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Sumatera Utara sebagai Wakil Ketua 3 (tiga) periode, yang kini selanjutnya menjadi Ketua PWNU Sumatera Utara.
Kiprahnya sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Utara tidak membuatnya merasa hebat dan merasa berkuasa, namun keadaan tersebut beliau jadikan sebagai momen terbaik untuk terus belajar secara langsung ke para alim ulama sepuh Pulau Jawa, seperti belajar langsung ke KH Yahya C. Staquf selaku Ketua Umum PBNU maupun kepada Gus Saifullah Yusuf, yang keduanya beliau jadikan sebagai mentor kehidupan, baik dalam berpolitik maupun mensejahterakan umat.
Lantas wajar jika dalam berbagai even nasional maupun internasional yang dihadiri keduanya beliau berupaya turut hadir langsung, walau harus mengoceh kantong sendiri, guna meneladani sosok yang beliau kagumi dan belajar secara langsung dengan bergaul bersama ulama dan menghormatinya.
Namun, itu semua tak menutup semangat akademis beliau, beliau yang kini semakin mashyur dan dikagumi banyak pihak dengan tetap memperhatikan motto pesantren yang telah mendidik karekternya yang juga merupakan ayat al-Quran: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Hingga beliau tetap semangat melanjutkan estafet pendidikannya dengan berupaya mencapai gelar Doktor dalam strata S3.
Dalam hal ini, Program Doktoral Universitas Sumatera Utara pernah menjadi pilihannya dan memang memberikan kesan terbaik bagi para dosen, hingga menjadi mahasiswa favorit bagi seorang dosen pakar hukum di USU, Prof. Dr. Solly Lubis, SH.
Namun, dengan kesibukan yang sangat ekstra program tersebut tak dapat terselesaikan dengan sempurna. Lebih dari itu, tampaknya Allah lebih mengarunia Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan-lah yang menjadi almamater terakhir dan terbaik bagi beliau, hingga kini beliau resmi menjadi Doktor bidang Filsafat Politik dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, UIN Sumatera Utara, Medan.
H. Marahalim Harahap : Kabinet Merah Putih Komit Tingkatkan Pelayanan Haji
H Marahalim Harahap : PMKNU untuk Lahirkan kader Pemimpin NU
Ketua PWNU Sumut Harapkan PMKNU Cetak Kader Militan dan Solutif
Dekan FUSI UIN Sumut Bantah Ada Mahasiswa S3 Lulus Tanpa Nilai
Cemarkan Nama Baik Marahalim Harahap, LPBH PWNU Sumut laporkan Media Aktual Online ke Poldasu