Sekolah Garuda dan Ilusi Kemajuan Pendidikan, Antara Simbol dan Realitas
Ia menekankan bahwa jika Sekolah Garuda benar-benar dimaksudkan sebagai model, seharusnya pemerintah memastikan ada mekanisme transfer pengetahuan dan praktik baik ke sekolah-sekolah lain. Namun hingga kini, belum terlihat desain sistemik yang menjamin proses tersebut berjalan. "Tanpa integrasi pembinaan guru, perbaikan kurikulum, dan pendampingan berkelanjutan, sekolah unggulan hanya akan menjadi etalase kebijakan cantik dilihat, tetapi miskin dampak," ujarnya.
Farid mengingatkan bahwa esensi pembangunan pendidikan tidak terletak pada kemegahan fisik, melainkan pada perhatian yang merata terhadap seluruh sekolah, terutama di daerah tertinggal. "Ribuan sekolah rakyat menunggu sentuhan sederhana: sanitasi layak, jaringan internet, atau buku pelajaran yang mutakhir. Di situlah inti dari pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan," ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan sejati bukan panggung pameran untuk menunjukkan kemewahan negara, melainkan proses panjang membangun kapasitas manusia dari bawah. "Sebelum menambah deretan sekolah unggulan baru, pemerintah sebaiknya menoleh ke belakang: benahi dahulu fondasi sistem yang timpang. Tanpa itu, Sekolah Garuda hanya akan menjadi simbol paradoks megah dari luar, tetapi kosong dari misi kemanusiaan yang seharusnya menjadi jiwa pendidikan Indonesia," pungkasnya.
Dewan Pendidikan Kabupaten Deli Serdang Gelar Sosialisasi dan Bimtek Tingkatkan Kompetensi Guru dan Tendik di Pancurbatu
Peringati Hari Kartini dan Hardiknas 2026, IKWI Sumut Anjangsana Salurkan Bantuan ke Panti Asuhan dan Warakauri PWI Sumut
Kadis Pendidikan Tapsel Kini Dipimpin Perempuan. Efrida Yanti Fokuskan Kesetaraan dan Pemerataan Hingga Kepelosok
UINSU Kembali Cetak Guru Besar, Rektor : Harus Mampu Menjadi “Mercusuar Peradaban”
Akselerasi Kinerja Guru dan Tendik, SD di Tembung Percut Sei Tuan Percepat Peningkatan Hasil Belajar