Sekolah Garuda dan Ilusi Kemajuan Pendidikan, Antara Simbol dan Realitas

Gustan Pasaribu - Minggu, 12 Oktober 2025 23:01 WIB
Sekolah Garuda dan Ilusi Kemajuan Pendidikan, Antara Simbol dan Realitas
dok.analisamedan.com
Founder Ethics of Care sekaligus mantan Anggota Komisi Yudisial (2015–2020), Farid Wajdi, menyebut proyek Sekolah Garuda sebagai bentuk “ilusi kemajuan pendidikan” yang lebih menonjolkan simbol daripada substansi.

analisamedan.com -Di tengah masih banyaknya sekolah dasar yang kekurangan fasilitas, pemerintah kembali menggulirkan proyek ambisius bernama Sekolah Garuda sebuah model sekolah unggulan yang diklaim akan melahirkan "talenta masa depan". Namun di balik gagasan futuristik itu, sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut justru menunjukkan kaburnya arah prioritas pembangunan pendidikan nasional.

Founder Ethics of Care sekaligus mantan Anggota Komisi Yudisial (2015–2020), Farid Wajdi, menyebut proyek Sekolah Garuda sebagai bentuk "ilusi kemajuan pendidikan" yang lebih menonjolkan simbol daripada substansi.

"Pemerintah tampaknya belum benar-benar belajar dari sejarah panjang proyek mercusuar pendidikan. Saat ribuan sekolah rusak dan guru masih harus membeli spidol dengan uang pribadi, pemerintah justru bersemangat membangun sekolah baru dengan biaya hingga Rp200 miliar per unit," ujar Farid dalam tulisannya yang berjudul Sekolah Garuda dan Ilusi Kemajuan Pendidikan.

Farid menilai, alasan pemerintah menghadirkan sekolah berkelas dunia untuk mencetak generasi unggul memang terdengar mulia. Namun kebijakan tersebut berpotensi menjadi bentuk salah urus prioritas di tengah keterbatasan anggaran. "Bukankah lebih rasional bila dana sebesar itu digunakan memperkuat sekolah-sekolah yang sudah ada yang kondisinya nyata dan menjerit?" katanya

Menurutnya, pembangunan Sekolah Garuda dan program Sekolah Rakyat justru menciptakan sistem pendidikan ganda (dual-track system): antara sekolah elitis dengan fasilitas lengkap dan sekolah biasa yang serba kekurangan. "Sekolah unggulan seperti ini sering berubah menjadi pulau eksklusif di tengah lautan ketimpangan. Ia menampung segelintir anak beruntung, sementara jutaan siswa lain tetap berjuang di ruang kelas yang pengap dan kekurangan guru," tegas Farid.

Kritik tajam juga diarahkan pada pendekatan pembangunan yang terlalu berorientasi infrastruktur. Pemerintah, kata Farid, tampak terjebak dalam obsesi membangun gedung megah alih-alih memperkuat kualitas guru, kurikulum, dan sistem pembelajaran. "Gedung megah tanpa guru berkualitas hanyalah monumen diam yang tak melahirkan kecerdasan apa pun," ujarnya.

Ia menekankan bahwa jika Sekolah Garuda benar-benar dimaksudkan sebagai model, seharusnya pemerintah memastikan ada mekanisme transfer pengetahuan dan praktik baik ke sekolah-sekolah lain. Namun hingga kini, belum terlihat desain sistemik yang menjamin proses tersebut berjalan. "Tanpa integrasi pembinaan guru, perbaikan kurikulum, dan pendampingan berkelanjutan, sekolah unggulan hanya akan menjadi etalase kebijakan cantik dilihat, tetapi miskin dampak," ujarnya.

Farid mengingatkan bahwa esensi pembangunan pendidikan tidak terletak pada kemegahan fisik, melainkan pada perhatian yang merata terhadap seluruh sekolah, terutama di daerah tertinggal. "Ribuan sekolah rakyat menunggu sentuhan sederhana: sanitasi layak, jaringan internet, atau buku pelajaran yang mutakhir. Di situlah inti dari pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan," ujarnya.

Ia menegaskan, pendidikan sejati bukan panggung pameran untuk menunjukkan kemewahan negara, melainkan proses panjang membangun kapasitas manusia dari bawah. "Sebelum menambah deretan sekolah unggulan baru, pemerintah sebaiknya menoleh ke belakang: benahi dahulu fondasi sistem yang timpang. Tanpa itu, Sekolah Garuda hanya akan menjadi simbol paradoks megah dari luar, tetapi kosong dari misi kemanusiaan yang seharusnya menjadi jiwa pendidikan Indonesia," pungkasnya.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru