Biola Mendorong Suhendri Keluar dari Zona Aman Demi Bebas Berkreasi

Gustan Pasaribu - Sabtu, 08 Juni 2024 18:57 WIB
Biola Mendorong Suhendri Keluar dari Zona Aman Demi Bebas Berkreasi
dok.analisamedan.com
Suhendri alias Andi
analisamedan.com -Tidak ada pendidikan khusus maupun kursus formal yang dikecapnya. Hanya sering berkumpul dengan komunitas para pencinta seni musik biola di taman Ahmad Yani Kota Medan, dirinya mengasah kemampuan untuk bisa memainkan alat music terbilang sedikit peminat.

Namun seiring waktu, kemampuanya mengalami peningkatan dalam menggesek biola dari sejumlah lagu. Keahlian ini pun akhirnya tetap menjadi aktivitas sehari-hari meski sejak dirinya bekerja menjadi salah seorang karyawan di sebuah perusaahaan di Kabupaten Deliserdang.

Suhendri yang lebih dikenal dengan panggilan 'Andi,' (35 tahun) dan sudah menikah telah pula dikarunia 2 orang anak, bertempat tinggal di Desa Bandarlabuhan, Kecamatan Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, kini menunjukkan kebolehannya bermain biola dari kafe ke kafe.

Dari hasil kebolehannya bermain biola ini, kadang bisa mendapatkan uang lebih untuk dibawa pulang menafkahi istri dan 2 anaknya. Meski tak jarang pula hanya membawa belasan ribu uang atau pas-pasan. Namun tidak pernah dirinya pulang ke rumah dalam keadaan kosong tanpa hasil.

"Kadang bisa bawa pulang hasil lumayan, kadang sedikit. Nggak pernah sih nggak dapat uang. Cuma kadang lumayan, kadang sedikit," ucapnya.

Ingin Bebas

Lakon sebagai seniman jalanan dengan kepiawaiannya memainkan alat musik biola sejak setahun terakhir digeluti Andi. Meski dengan penghasilan yang tidak pasti untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarga, sudah menjadi komitmennya tanpa ada penyesalan.

Keputusannya terjun mencari nafkah dari simpatik orang-orang yang mendengarkan lantunan permainan biolanya, sejak 2 tahun lalu sudah dipikirkannya secara mantap. Pasalnya, 12 tahun bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji Rp 4,3 juta, setiap bulan, dirinya sudah aman dan nyaman untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun akhirnya Andi mengaku keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dengan mantap setidaknya ada 2 faktor. Pertama, karena ingin bebas berkreasi mengembangkan keterampilan bermain biola. Sebab, waktu bekerjanya di perusahaan tidak memberikan waktu luang dan leluasa baginya untuk menyalurkanya keasyikannya bermain biola.

"Kalau kita bekerja kan harus ikut aturan perusahaan. Sementara waktu kerjanya itu cukup lama sehingga gak ada waktu bebas untuk mengamen," ungkap Andi.

Faktor kedua, ia merasa bahwa pekerjaannya di perusahaan tersebut lebih banyak tidak sesuai dengan standar. Banyak prosedur yang dilanggar dan seperti mengakali pekerjaan itu sehingga baginya bertentangan dengan hati nurani.

Tapi Andi mengaku, sejak keluar dari perusahaan tempatnya bekerja yang sudah dilakoninya selama 12 tahun, justru hal positif terlihat dari sisi kebatinan istrinya. Betapa istrinya dalam setiap doanya kepada tuhan terkait permohonan rejeki, lebih sungguh-sungguh.

Dulu saat masih bekerja, doanya tidak begitu bersugguh-sungguh karena setiap bulannya pasti mendapatkan uang dari gajinya. Namun setelah tidak lagi bekerja, istrinya tampak lebih bersungguh-sungguh ketika berdoa kepada tuhan.

"Ya Pak. Kalau dulu doanya ya tetap doa. Tapi kan kurang sunguh-sungguh berdoanya karena setiap bulan pasti ada uang dari gaji saya. Tapi ekarang, istri saya kalau berdoa, itu lebih sungguh-sungguh," paparnya.

Belum Dianggap

Sebagai seniman jalanan, Andi mengaku profesi mereka belum dianggap banyak orang dan selalu dinilai sebagai profesi tidak memiliki masa depan. Di Sumatera Utara terlebih di Kabupaten Deliserdang, seni belum jadi favorit terlebih seni memainkan alat musik biola, peminatnya terbilang langka.

Berbeda dengan di pulaa Jawa seperti, Kota Jakarta, Yogyakarta dan Bali, seniman di sana mendapatkan apresiasi tinggi bahkan menjadi industri yang menghasilkan pundi-pundi uang. Namun kompetisi di sana pun harus diakui sangat tinggi sehingga perkembagannya sangat cepat.

"Kalau di sana progresnya (perkembagan) lambat, ya tertinggal," ucapnya.

Faktor lainnya seniman di Sumatera Utara kurang berkembang, dikarenakan komunitasnya belum banyak dan tidak bertahan lama karena memang tuntutan pembiayaannya disebabkan minim sponsor. Dulu, dirinya bersama sejumlah teman punya grup band. Bahkan sempat hampir rekaman. Namun dikarenakan pentolan mereka yang selama ini membiayai operasional mendapatkan pekerjaan mapan, akhirnya grup band mereka bubar.

Bisa Berkembang

Meski sampai saat ini seniman jalanan seperti dirinya belum punya komunitas, terlebih peminat alat musik biola ini sangat minim, Andi berharap mereka bisa berkembag di Deliserdang yang pemerintahnya mengusung visi pembangunan "Deliserdang yang maju dan sejahtera dengan masyarakatnya yang religius dan rukun dalam kebinekaan".

Seniman-seniman jalanan ini sebenarnya butuh dukungan untuk bisa berkembang dengan memberikan panggung sehingga mereka bisa berkreasi dengan seni masing-masing. Semua seniman pasti menginginkan kemajuan termasuk bisa hidup lebih sejahtera secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun itu diyakini Andi akan mengikuti bila ada panggung-panggung untuk mereka berkreasi. Mereka merasakan panggung-panggung untuk berkreasi tidak dimiliki serta kurang didukung. Padahal bila dukungan terhadap mereka difasilitasi, diyakini akan bisa maju berkembang bahkan sejahtera.

"Mudah-mudahan seni di Deliserdang bisa maju dan instrumen kayak saya ini bisa naik," tandas Andi yang berani keluar dari zona aman dan nyaman demi bebas berkreasi.(air)

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru