Biola Mendorong Suhendri Keluar dari Zona Aman Demi Bebas Berkreasi
Namun
seiring waktu, kemampuanya mengalami peningkatan dalam menggesek biola dari
sejumlah lagu. Keahlian ini pun akhirnya tetap menjadi aktivitas sehari-hari
meski sejak dirinya bekerja menjadi salah seorang karyawan di sebuah
perusaahaan di Kabupaten Deliserdang.
Suhendri
yang lebih dikenal dengan panggilan 'Andi,' (35 tahun) dan sudah menikah telah
pula dikarunia 2 orang anak, bertempat tinggal di Desa Bandarlabuhan, Kecamatan
Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, kini menunjukkan
kebolehannya bermain biola dari kafe ke kafe.
Dari
hasil kebolehannya bermain biola ini, kadang bisa mendapatkan uang lebih untuk
dibawa pulang menafkahi istri dan 2 anaknya. Meski tak jarang pula hanya
membawa belasan ribu uang atau pas-pasan. Namun tidak pernah dirinya pulang ke
rumah dalam keadaan kosong tanpa hasil.
"Kadang
bisa bawa pulang hasil lumayan, kadang sedikit. Nggak pernah sih nggak dapat
uang. Cuma kadang lumayan, kadang sedikit," ucapnya.
Ingin
Bebas
Lakon
sebagai seniman jalanan dengan kepiawaiannya memainkan alat musik biola sejak
setahun terakhir digeluti Andi. Meski dengan penghasilan yang tidak pasti untuk
mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarga, sudah menjadi komitmennya tanpa
ada penyesalan.
Keputusannya
terjun mencari nafkah dari simpatik orang-orang yang mendengarkan lantunan
permainan biolanya, sejak 2 tahun lalu sudah dipikirkannya secara mantap.
Pasalnya, 12 tahun bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji Rp 4,3 juta, setiap
bulan, dirinya sudah aman dan nyaman untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari.
Namun
akhirnya Andi mengaku keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dengan mantap
setidaknya ada 2 faktor. Pertama, karena ingin bebas berkreasi mengembangkan
keterampilan bermain biola. Sebab, waktu bekerjanya di perusahaan tidak
memberikan waktu luang dan leluasa baginya untuk menyalurkanya keasyikannya
bermain biola.
"Kalau
kita bekerja kan harus ikut aturan perusahaan. Sementara waktu kerjanya itu
cukup lama sehingga gak ada waktu bebas untuk mengamen," ungkap Andi.
Faktor
kedua, ia merasa bahwa pekerjaannya di perusahaan tersebut lebih banyak tidak
sesuai dengan standar. Banyak prosedur yang dilanggar dan seperti mengakali
pekerjaan itu sehingga baginya bertentangan dengan hati nurani.
Tapi
Andi mengaku, sejak keluar dari perusahaan tempatnya bekerja yang sudah dilakoninya
selama 12 tahun, justru hal positif terlihat dari sisi kebatinan istrinya.
Betapa istrinya dalam setiap doanya kepada tuhan terkait permohonan rejeki,
lebih sungguh-sungguh.
Dulu
saat masih bekerja, doanya tidak begitu bersugguh-sungguh karena setiap
bulannya pasti mendapatkan uang dari gajinya. Namun setelah tidak lagi bekerja,
istrinya tampak lebih bersungguh-sungguh ketika berdoa kepada tuhan.
"Ya Pak. Kalau dulu doanya ya tetap doa. Tapi kan kurang sunguh-sungguh berdoanya karena setiap bulan pasti ada uang dari gaji saya. Tapi ekarang, istri saya kalau berdoa, itu lebih sungguh-sungguh," paparnya.
Belum
Dianggap
Sebagai
seniman jalanan, Andi mengaku profesi mereka belum dianggap banyak orang dan
selalu dinilai sebagai profesi tidak memiliki masa depan. Di Sumatera Utara
terlebih di Kabupaten Deliserdang, seni belum jadi favorit terlebih seni
memainkan alat musik biola, peminatnya terbilang langka.
Berbeda
dengan di pulaa Jawa seperti, Kota Jakarta, Yogyakarta dan Bali, seniman di
sana mendapatkan apresiasi tinggi bahkan menjadi industri yang menghasilkan
pundi-pundi uang. Namun kompetisi di sana pun harus diakui sangat tinggi
sehingga perkembagannya sangat cepat.
"Kalau
di sana progresnya (perkembagan) lambat, ya tertinggal," ucapnya.
Faktor lainnya seniman di Sumatera Utara kurang berkembang, dikarenakan komunitasnya belum banyak dan tidak bertahan lama karena memang tuntutan pembiayaannya disebabkan minim sponsor. Dulu, dirinya bersama sejumlah teman punya grup band. Bahkan sempat hampir rekaman. Namun dikarenakan pentolan mereka yang selama ini membiayai operasional mendapatkan pekerjaan mapan, akhirnya grup band mereka bubar.
Bisa
Berkembang
Meski
sampai saat ini seniman jalanan seperti dirinya belum punya komunitas, terlebih
peminat alat musik biola ini sangat minim, Andi berharap mereka bisa berkembag
di Deliserdang yang pemerintahnya mengusung visi pembangunan "Deliserdang yang
maju dan sejahtera dengan masyarakatnya yang religius dan rukun dalam
kebinekaan".
Seniman-seniman
jalanan ini sebenarnya butuh dukungan untuk bisa berkembang dengan memberikan
panggung sehingga mereka bisa berkreasi dengan seni masing-masing. Semua
seniman pasti menginginkan kemajuan termasuk bisa hidup lebih sejahtera secara
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun
itu diyakini Andi akan mengikuti bila ada panggung-panggung untuk mereka
berkreasi. Mereka merasakan panggung-panggung untuk berkreasi tidak dimiliki
serta kurang didukung. Padahal bila dukungan terhadap mereka difasilitasi,
diyakini akan bisa maju berkembang bahkan sejahtera.
"Mudah-mudahan
seni di Deliserdang bisa maju dan instrumen kayak saya ini bisa naik," tandas Andi
yang berani keluar dari zona aman dan nyaman demi bebas berkreasi.(air)
THM Phantom Adam Malik Digerebek, Seorang CS Diamankan Polisi
Farid Wajdi Soroti Blackout Sumatera: Negara Jangan Sibuk Pencitraan, Tapi Perkuat Ketahanan Energi
Penjaga Pos Ronda di Tembung Ditangkap, Polisi Temukan Sabu dan Timbangan Elektrik
Alwashliyah Mitra Strategis Penguatan Perlindungan Anak
Yenny Dermawan : Tidak Ada Lagi Masalah Anak Jika Kita Bersatu