Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun

Oleh : Amirul Khair
El-Khair - Jumat, 26 Juli 2024 11:17 WIB
Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun
dok.analisamedan.com
Penulis Amirul Khair (Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pantai Labu)


Makna Kesadaran

Firman Allah Swt : "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Inn? lill?hi wa inn? ilaihi r?ji'?n" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan dikembalikan (mati)". (Q.S. Albaqarah : 156)

Kalimat "Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun" meski akrab terdengar di telinga dan sering diucap serta mudah dihapal ini, namun kita jarang memahami makna ayat ini sebagai bentuk kesadaran sebagai seorang hamba yang kelak akan kembali kepada Sang Khalik.

Banyak ayat dalam Alquran dikuatkan hadis Nabi Muhammad Saw serta secara khusus kalimat "Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun" ini semestinya kita pahami sebagai isyarat nyata, jelas bahwa kita milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya dalam arti mati.

Makna ayat ini sebenarnya sebuah kesadaran manusia yang sudah mengakui kepada Allah Swt bahwa dirinya milik Allah Swt. Posisi sebagai yang 'dimiliki' tentu menyadari betul bahwa dirinya tidak punya hak dan wewenang atas dirinya sendiri. Maka apapun yang dikehendaki pemilikya, yang dimiliki tentu tidak punya pilihan selain menerima.

Kesadaran hakiki juga terekam dari kalimat "Sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan (mati)" yang mengakui bahwa seorang manusia pasti akan mati. Pengakuan ini pun menjadi alasan bahwa secara sadar manusia sudah tahu dirinya pasti akan mati.

Lalu, muncul pertanyaan, setelah pengakuan dan kesadaran ini, kenapa justru manusia ingkar dari pengakuannya sendiri dengan berperilaku tidak sesuai dengan pengakuan tersebut ? Begitulah manusia.

Karena sifat manusia yang selalu ingkar, Allah Swt selalu mengingatkan manusia. Bahkan dalam surat Alrahman yang di dalamnya ada 78 ayat, sebanyak 31 kali Allah Swt mengulang kalimat "Fabiayyi Alaa Irobbikumaa Tukazzibaan" (Dan nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan).

Iman yang Cerdas

Kematian dalam Islam bukan sebagai bencana buruk, melainkan sunatullah yang pasti dialami setiap manusia. Kematian juga bukan akhir dari segala-galanya, justru menjadi awal urusan yang hakiki karena ketika manusia mati, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama menjalani hidup di dunia.

Karena itu, Rasuluulah Saw pernah menegaskan dalam hadisnya "Sebaik-baik kamu adalah yang diberikan umur panjang dan baik pula amalnya. Seburuk-buruk manusia adalah yang diberikan umur panjang dan jelek pula amalnya".

Editor
: El-Khair
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru