Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun

Oleh : Amirul Khair
El-Khair - Jumat, 26 Juli 2024 11:17 WIB
Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun
dok.analisamedan.com
Penulis Amirul Khair (Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pantai Labu)

analisamedan.com - Kalimat "Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun" sering kali meluncur dari lisan dan selalu akrab di telinga kita setiap kali ada musibah yang terjadi khususnya ketika seorang muslim meninggal dunia atau mengalami kematian.

Sering kali pula, banyak yang mengalami keterkejutan ketika peristiwa ini terjadi pada seseorang. "Kemarin baru jumpa dia. Padahal waktu jumpa dia sehat-sehat saja. Bahkan kami sempat bercerita panjang lebar dan tertawa".


"Gak nyangka ya, dia pergi secepat ini" atau "Tadi pagi kami baru saja olahraga bersama. Kemudian lanjut makan malam bersama. Tiba-tiba, tadi dapat kabar dia sudah meninggal dunia".

Banyak macam ungkapan dan peristiwa keterkejutan dan keheranan ketika melihat fakta ini.

Haruskah heran ? Sebenarnya kita tidak perlu heran dengan peristiwa kematian. Sebab kematian adalah peristiwa biasa yang luar biasa. Biasa karena setiap manusia pasti akan mengalami kematian dan sudah banyak peristiwa ini kita lihat baik dari orang-orang terdekat kita maupun orang lain yang tidak kita kenal.

Peristiwa ini juga peristiwa luar biasa. Karena peristiwa ini menjadi pemutus segala kenikmatan dunia bahkan penentu kehidupan selanjutnya baik pada saat di alam barzakh (kubur) dan hari kebangkitan.

Kematian selazimnya tidak perlu diherankan. Sebab kematian sudah sejak lama diingatkan Allah Swt dalam Alquran dalam sejumlah ayat. Salah satunya termaktub dalam surat Ali Imran ayat 185 yang artinya : "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati".

Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya : "Setiap umat pasti memiliki ajal (batas hidup di dunia). Apa bila ajal itu tiba, maka tidak seorang pun bisa menundanya sedikit pun atau mempercepatnya". (Q.S.Alaraf : 34)

Sekuat dan sesehat apa pun seorang itu, setinggi apapun ilmu seorang dokter tentang penyakit, sekaya apa pun harta yang dimiliki, setinggi apa pun pangkat serta jabatannya, semaunya pasti akan mengalami kematian.

Tidak ada seorang pun akan bisa menghindar dari kematian meski harus bersembunyi di balik kecanggihan teknologi atau bangunan kokoh yang kuat. Semuanya terang benderang akan kembali kepada-Nya.

Firman Allah Swt : "Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meski pun kamu berada (bersembunyi) dalam benteng yang kukuh". (Q.S Alnisa : 78)

Masih herankah dengan datangnya kematian itu ? Kematian datang tanpa syarat. Orang tua, dewasa, remaja, anak-anak, sehat, sakit, penguasa, orang kaya, orang miskin dan apa pun status sosialnya, semuanya akan berakhir dengan kematian.

"Orang kaya mati, orang miskin mati, raja-raja mati orang biasa mati. Semua pergi menghadap Ilahi" begitu petikan syair lagu pendakwah Ustaz Derry Sulaiman dalam album bertajuk "Dunia Sementara Akhirat Selamanya" (DSAS).

Makna Kesadaran

Firman Allah Swt : "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Inn? lill?hi wa inn? ilaihi r?ji'?n" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan dikembalikan (mati)". (Q.S. Albaqarah : 156)

Kalimat "Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun" meski akrab terdengar di telinga dan sering diucap serta mudah dihapal ini, namun kita jarang memahami makna ayat ini sebagai bentuk kesadaran sebagai seorang hamba yang kelak akan kembali kepada Sang Khalik.

Banyak ayat dalam Alquran dikuatkan hadis Nabi Muhammad Saw serta secara khusus kalimat "Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun" ini semestinya kita pahami sebagai isyarat nyata, jelas bahwa kita milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya dalam arti mati.

Makna ayat ini sebenarnya sebuah kesadaran manusia yang sudah mengakui kepada Allah Swt bahwa dirinya milik Allah Swt. Posisi sebagai yang 'dimiliki' tentu menyadari betul bahwa dirinya tidak punya hak dan wewenang atas dirinya sendiri. Maka apapun yang dikehendaki pemilikya, yang dimiliki tentu tidak punya pilihan selain menerima.

Kesadaran hakiki juga terekam dari kalimat "Sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan (mati)" yang mengakui bahwa seorang manusia pasti akan mati. Pengakuan ini pun menjadi alasan bahwa secara sadar manusia sudah tahu dirinya pasti akan mati.

Lalu, muncul pertanyaan, setelah pengakuan dan kesadaran ini, kenapa justru manusia ingkar dari pengakuannya sendiri dengan berperilaku tidak sesuai dengan pengakuan tersebut ? Begitulah manusia.

Karena sifat manusia yang selalu ingkar, Allah Swt selalu mengingatkan manusia. Bahkan dalam surat Alrahman yang di dalamnya ada 78 ayat, sebanyak 31 kali Allah Swt mengulang kalimat "Fabiayyi Alaa Irobbikumaa Tukazzibaan" (Dan nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan).

Iman yang Cerdas

Kematian dalam Islam bukan sebagai bencana buruk, melainkan sunatullah yang pasti dialami setiap manusia. Kematian juga bukan akhir dari segala-galanya, justru menjadi awal urusan yang hakiki karena ketika manusia mati, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama menjalani hidup di dunia.

Karena itu, Rasuluulah Saw pernah menegaskan dalam hadisnya "Sebaik-baik kamu adalah yang diberikan umur panjang dan baik pula amalnya. Seburuk-buruk manusia adalah yang diberikan umur panjang dan jelek pula amalnya".

Kehidupan dunia adalam tempat persiapan membekali diri untuk pulang (mati) kepada Allah Swt. Keimanan yang cerdas harus menjadi bekal dalam persiapan selama hidup di dunia sebelum kematian tiba.

Rasulullah Saw dalam hadisnya memberikan isyarat kepada umatnya bahwa sebaik-baik orang beriman adalah senantiasa mengingat kematian yang menandakan pula kecerdasannya.

Sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Umar ra. berkata : "Aku pernah bersama Rasulullah Saw, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Saw, lalu bertanya : "Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?" Beliau menjawab : "Paling baik akhlaknya". Orang ini bertanya lagi : "Lalu orang beriman manakah yang paling cerdas?". Beliau menjawab : Orang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian. Merekalah yang cerdas". (Riwayat Ibnu Majah).

Orang beriman yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian dan menyiapkan diri dengan amal-amal saleh. Lihat surat 'Alashr' yang menegaskan, bahwa manusia itu menjadi orang-orang yang rugi dalam hidup kecuali ia beriman kepada Allah Swt dan mengiringi imannya dengan amal-amal saleh.

Penegasan ini juga disebutkan Allah Swt dalam Surat Almulk ayat 2 bahwa 'kematian' dan 'kehidupan' diciptakan Allah Swt untuk menguji manusia siapa yang terbaik amal baiknya.

Jadi, mari sama-sama ingatkan diri kita bahwa kita adalah milik-Nya dan akan 'kembali' kepadanya-Nya serta cerdas mempersiapkan bekal kembali kepada-Nya lewat amal-amal saleh.Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamit Thoriq.



Editor
: El-Khair
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru