Transformasi Kualitas SDM Dosen dan Tendik UINSU Medan

Oleh: Dr Abrar M. Dawud Faza, MA *)
Sugiatmo - Senin, 21 September 2026 22:23 WIB
Transformasi Kualitas SDM Dosen dan Tendik UINSU Medan
analisamedan.com/dok
Dr Abrar M. Dawud Faza, MA

Peluang ini perlu diarahkan secara lebih strategis. Kerja sama tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman. Ukurannya adalah berapa banyak penelitian bersama yang lahir, publikasi yang dihasilkan, dosen yang mengalami peningkatan kompetensi, mahasiswa yang memperoleh pengalaman akademik baru, dan inovasi yang masuk ke ruang kelas.

Demikian pula dengan internasionalisasi. Kehadiran mahasiswa asing dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Kamboja membuka ruang bagi UINSU untuk membangun lingkungan akademik yang lebih terbuka. Tetapi internasionalisasi membutuhkan dosen yang mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, memahami keberagaman budaya, serta memiliki jejaring akademik lintas negara.

Rencana pengembangan Fakultas Kedokteran juga menambah dimensi baru. Program tersebut membutuhkan SDM dengan kualifikasi khusus sekaligus budaya akademik dan riset yang berbeda. Dengan demikian, ekspansi institusi harus selalu berjalan beriringan dengan ekspansi kapasitas manusia.

Dari Smart Islamic University Menuju Universitas Pembelajar
Pada akhirnya, ukuran transformasi UINSU tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah guru besar, publikasi, akreditasi, atau gedung baru. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah universitas mampu menjadi organisasi pembelajar (learning organization) yang terus memperbaiki dirinya.

Universitas yang belajar adalah universitas yang tidak takut membaca kekurangannya sendiri. Kekurangan dosen harus dibaca sebagai persoalan strategis, bukan sekadar persoalan administratif. Keterbatasan anggaran harus mendorong inovasi pembiayaan dan penguatan jejaring, bukan menjadi alasan untuk menunda pengembangan SDM. Perubahan regulasi harus dijawab dengan penguatan sistem pendampingan, bukan sekadar meneruskan informasi dari pusat ke unit kerja.

Dalam kerangka itu, tenaga kependidikan juga harus memperoleh tempat yang setara dalam agenda transformasi. Digitalisasi akademik, pelayanan mahasiswa, administrasi keuangan, pengelolaan data, hingga sistem informasi tidak akan berjalan tanpa tendik yang kompeten. Universitas modern membutuhkan dosen yang kuat secara akademik sekaligus birokrasi akademik yang profesional.

Karena itu, investasi SDM harus ditempatkan sebagai investasi institusional jangka panjang. Bukan hanya pelatihan, tetapi juga sistem karier, kesejahteraan, penghargaan terhadap kinerja, mobilitas akademik, dukungan riset, dan ruang bagi inovasi.

Menjaga Momentum
UINSU telah memiliki modal yang tidak kecil. Akreditasi institusional Unggul, meningkatnya jumlah program studi berstatus Unggul, pengembangan pendidikan doktor, penguatan penjaminan mutu, serta jaringan kerja sama akademik menunjukkan adanya proses transformasi yang berlangsung.

Tetapi status Unggul bukanlah tujuan akhir. Ia justru meningkatkan tanggung jawab. Setelah memperoleh pengakuan, publik berhak menunggu bukti berikutnya: apakah kualitas pembelajaran meningkat, apakah penelitian semakin produktif, apakah lulusan semakin kompetitif, apakah dosen memperoleh ruang berkembang, dan apakah pelayanan akademik semakin baik?

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru