Polemik di PBNU, Ulama Sepuh se Pulau Sumatera Serukan Islah

Sugiatmo - Minggu, 14 Desember 2025 21:50 WIB
Polemik di PBNU, Ulama Sepuh se Pulau Sumatera Serukan Islah
analisamedan.com/dok
Ulama Sepuh, Masyaikh dan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) se Pulau Sumatera berkumpul di Pesantren Mawaridussalam, Batangkuis, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Minggu (14/12/2025).

analisamedan.com - Puluhan Ulama Sepuh, Masyaikh dan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) se Pulau Sumatera berkumpul di Pesantren Mawaridussalam, Batangkuis, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Minggu (14/12/2025).

Para Ulama Sepuh itu membahas perkembangan dan kondisi NU saat ini, sekaligus menyampaikan sikap.

KH. Abdul Hamid Ritonga yang memimpin pertemuan itu dalam mukadimahnya menjelaskan, pertemuan yang didasari niat bersama untuk menjaga marwah organisasi tempat berkumpulya para ulama itu menyebutkan, pertemuan ini terselenggara atas inisiasi para kiyai-kiyai non struktural NU.

"Pertemuan ini didasari rasa ikhlas dan harap dari Allah Swt agar terjadi islah sebagai jalan terbaik di jajaran PBNU," ujar KH Abdul Hamid.

Namun, terjadi perbedaan pendapat saat masing-masing ulama menyampaikan pendapat dan saran untuk kebaikan NU ke depan.

Perbedaan pandangan dan pendapat itu pada akhirnya mengerucut dalam satu kesepakatan yang dituangkan sebagai pernyataan sikap bersama para ulama sepuh, Masyaikh dan Tokoh Nahdlatul Ulama.

Pernyataan sikap bersama para ulama sepuh, masyaikh, dan tokoh NU se-Sumatera yang dibacakan oleh Wakil Rois Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara KH Abdul Hamid Ritonga itu meliputi, pertama, menyerukan kepada PBNU untuk islah sebagaimana dawuh masyaikh NU di Ploso dan di Tebuireng demi kemaslahatan jama'ah dan jam'iyah.

Kedua, islah dapat dilakukan dengan keikutsertaan unsur AHWA, mustasyar, dan zuriyat muassis NU untuk menegaskan kembali posisi mandataris muktamar NU ke-34 di Lampung, yaitu KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2021-2026.

Ketiga, mengajak seluruh PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk mematuhi dawuh masyaikh NU dan senantiasa istighatsah dan berdoa memohon kepada Allah SWT untuk NU yang semakin kuat dan jaya demi kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan rahmat bagi semesta.

Para ulama sepuh, masyaikh, dan tokoh NU se-Sumatera yang hadir pada kesempatan itu antara lain Tgk KH Aqil Zikrullah dan Tgk KH Ibnu Ibrahimi dari Aceh, kemudian KH Abdul Hamid Ritonga, Buya Syahrial Ams, KH Abdullah Harahap, KH Muhyiddin Masykur, KH Abdullah Nasution, Ustadz H Idrus Hasibuan, KH M Roihan Nasution, Syekh Nuruddin bin Amir, KH Sariman Al-Faruq, Buya Mardin Assidiqie, H Muhammad Daud, dan KH Akhyar Nasution dari Sumatera Utara.

Lalu, KH Sholahudin Syargawi Al-Qodiri dari Jambi, Datok Kiyai Haji Endy Maulidi (Kepulauan Riau), KH Al Mawardi dan KH Ichsan Habibi (Bangka Belitung), KH Nur Kholidin dan Ustadz Heri Sulamto (Sumatera Barat), H. Khosairi (Riau), serta KH Soleh Bajuri, KH Imam Suhadi, dan H Okta Rijaya M (Lampung).

Ulama asal Lampung KH Soleh Bajuri di sela-sela ajang silaturahim itu menegaskan bahwa islah menjadi sebuah keharusan agar segala pesoalan yang mendera NU belakangan ini bisa segera terselesaikan.

"Harus segera islah, jangan ditunda lagi agar persoalan tidak semakin berlarut-larut," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan KH Sholahudin Syargawi Al-Qodiri dari Jambi. Menurut dia, kisruh yang dibiarkan berlarut-larut hanya akan merugikan NU sendiri.

"Mari segera islah. Kalau setelah itu dinilai perlu digelar muktamar yang dipercepat atau bahkan muktamar luar biasa, silakan saja. Kita juga harus mewaspadai pihak luar yang bisa saja memang menginginkan NU ini tercerai-berai," tegasnya.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru