Tren Berlangganan Berita Merambah Dunia

Taufik Wal Hidayat - Kamis, 09 Februari 2023 09:26 WIB
Tren Berlangganan Berita Merambah Dunia
analisamedan.com/ist
Rektor UMA Prof. Dr. Dadan Ramdan (kanan) menyerahkan cendera mata kepada Redpel Kompas, Adi Prinantyo di sela - sela Talk Show Literasi Digital bertema “Hati-Hati Tersesat di Labirin Informasi” di Kampus I UMA.

analisamedan.com -Tren berlangganan digital di dunia kini juga merambah sektor pemberitaan, dimana masyarakat rela untuk membayar karena merasa sumber berita tersebut layak dipercaya ketimbang membaca dari sumber berita yang tidak jelas. Seperti Koran New York Times (Amerika) dengan 5.700.000 pelanggan dan Koran Wall Street Journal (Amerika) dengan 2.200.000 pelanggan.

Hal ini Redaktur Pelaksana Kompas Adi Prinantyo sampaikan ketika memberikan materi Talk Show Literasi Digital bertema "Hati-Hati Tersesat di Labirin Informasi" di Aula Convention Hall Prof. Dr. H. A. Ya'kub Matondang, M.A, Gedung Biro Rektor Lantai 3, Kampus 1 UMA, Jl. Kolam No. 1 Medan Estate.

Namun demikian katanya, supaya masyarakat percaya terhadap suatu pemberitaan, maka isinya haruslah berkualitas.

Baca Juga :Media Sosial Miliki Kekuatan Rubah Pola Bermedia Masyarakat

"Banyak pihak yang menentukan kualitas sebuah berita: penulis, redaktur, kemudian narasumber dan pembaca. Pembaca memiliki hak untuk memberikan saran dan kritikan untuk perbaikan kualitas berita," kata Adi.

Wartawan yang sudah berkiprah selama 22 tahun ini, berharap Hari Pers Nasional 2023 ini menjadi titik balik setiap perusahaan media agar bisa menghasilkan berita yang inspiratif dan meminimalisir bias informasi, seperti sumber tidak jelas dan tidak berimbang. "Dengan harapan bisa menjadi penunjuk arah, menghindari propaganda dan selera rendah," tegasnya.

Eks Wartawan Suara Merdeka di Semarang ini juga memerinci tugas awak dapur redaksi, seperti 1) Reporter: menuliskan hasil liputan; dan 2) Editor: memperkaya dan mengoreksi hasil peliputan, serta memastikan tidak ada unsur seks, kekerasan dan SARA.

Ia juga menyarankan perusahaan media untuk memiliki Dewan Kompetensi yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan wartawan, seperti secara reguler mengevaluasi hasil liputan terbaik para wartawannya; dan memiliki Dewan Etik yang bertugas untuk mengontrol wartawannya agar tetap mematuhi Kode Etik Jurnalistik, serta menyiapkan regenerasi penerus secara ideologis.

"Supaya liputan wartawan semakin baik ke depannya. Dewan etik kalau tidak ada kasus lebih baik. Terkait pelanggaran etik terkait suap-menyuap, menerima gratifikasi. Kalau tidak bekerja berarti tidak ada masalah," imbaunya.

Salah seorang peserta, Samuel Septuadi Sinambela menanyakan terkait dengan peran pers dalam menekan berita hoaks yang sering terjadi di Indonesia. "Pers adalah mata dan telinga masyarakat, jadi kira-kira apa yang sering dihadapin kompas ketika menyampaikan informasi?" tanyanya.

Menurut Adi, peran pers dalam menekan berita hoaks adalah dengan menjaga netralitas, terlebih pada saat menjelang pemilu. "Ketika wartawan punya kedekatan dengan partai politik, dia akan menjadi anggota atau simpatisan dari partai politik. Maka redaksi akan meminta dia tidak aktif dulu, atau tidak bersinggungan dengan partai politik. Atau dipindahkan kepada desk yang tidak berkaitan untuk menghilangkan konflik kepentingan, atau dia diminta tidak aktif, beberapa media melakukan itu untuk mempertahankan non partisan," terangnya.

Adi juga mengajak perusahaan media untuk memperjelas positioning-nya; apakah menghasilkan produk jurnalisme data, jurnalisme indepth, atau jurnalisme investigasi."Di dunia yang dibanjiri informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan!" pungkasnya.

Editor
: Taufik Wal Hidayat
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru