Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik
Akademisi yang Gelisah
Di dunia akademik, Anang menemukan ruang refleksi yang lebih dalam. Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menulis dan berpikir. Ratusan opini telah ia hasilkan. Buku-buku yang ia tulis mengupas komunikasi politik, politik Islam, hingga kebijakan publik. Ia juga aktif dalam berbagai forum diskusi, termasuk dalam penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia bersama Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Namun, di balik produktivitas itu, ada kegelisahan yang terus ia rawat tentang arah politik yang kian menjauh dari nilai-nilai etika.
Kegelisahan itu mencapai puncaknya dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul "Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam." Dalam pidato tersebut, ia mengangkat fenomena yang sangat akrab di era demokrasi modern: politik pencitraan.
Menurutnya, pencitraan memang tidak bisa dihindari. Namun persoalannya bukan pada keberadaannya, melainkan pada dasarnya apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi? Dalam perspektif Islam, komunikasi politik tidak bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia menegaskan pentingnya spirit qaulan sadida komunikasi yang lurus, benar, dan tidak menyesatkan."Sesungguhnyapolitik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi bentuk pengabdian. Reputasi tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, melainkan dari konsistensi akhlak."ujarnya
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
Dua Akademisi UIN Sumut Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Tegaskan Peran Ilmu Hadapi Tantangan Zaman
Tiga Wartawan PWI Sumut Ikuti Retret Bela Negara Kemhan RI
SIWO Sumut Gelar Workshop Wartawan Olahraga
UKW PWI Sumut 2025 Sukses, 46 Wartawan Kompeten