Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik

Gustan Pasaribu - Rabu, 22 April 2026 19:58 WIB
Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik
analisamedan.com/gustanpasaribu
Prof.Dr.Anang Anas Azhar,S.Ag,M.A Guru Besar UINSU


Akademisi yang Gelisah

Di dunia akademik, Anang menemukan ruang refleksi yang lebih dalam. Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menulis dan berpikir. Ratusan opini telah ia hasilkan. Buku-buku yang ia tulis mengupas komunikasi politik, politik Islam, hingga kebijakan publik. Ia juga aktif dalam berbagai forum diskusi, termasuk dalam penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia bersama Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Namun, di balik produktivitas itu, ada kegelisahan yang terus ia rawat tentang arah politik yang kian menjauh dari nilai-nilai etika.

Kegelisahan itu mencapai puncaknya dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul "Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam." Dalam pidato tersebut, ia mengangkat fenomena yang sangat akrab di era demokrasi modern: politik pencitraan.

Menurutnya, pencitraan memang tidak bisa dihindari. Namun persoalannya bukan pada keberadaannya, melainkan pada dasarnya apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi? Dalam perspektif Islam, komunikasi politik tidak bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia menegaskan pentingnya spirit qaulan sadida komunikasi yang lurus, benar, dan tidak menyesatkan."Sesungguhnyapolitik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi bentuk pengabdian. Reputasi tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, melainkan dari konsistensi akhlak."ujarnya

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru