Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik
analisamedan.com -Pagi itu, Rabu 22 April 2026, suasana di kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara terasa berbeda. Di Gelanggang Mahasiswa H.M. Arsjad Thalib Lubis, langkah seorang anak kampung mencapai titik yang selama ini hanya ia simpan dalam diam: menjadi guru besar.
Namanya Anang Anas Azhar. Di hadapan Sidang Senat Terbuka yang dipimpin Pagar Hasibuan dan didampingi Nurhayati, ia dikukuhkan sebagai profesor di bidang Komunikasi Politik Islam. Namun, kisahnya bukan sekadar tentang gelar akademik melainkan tentang perjalanan hidup yang ditempa oleh kesederhanaan, kerja keras, dan keteguhan.
Jauh sebelum toga profesor itu disematkan, Anang kecil tumbuh di Desa Tebing Linggahara, Labuhanbatu. Ia lahir dalam keluarga sederhana, di mana kehidupan sehari-hari mengajarkan arti perjuangan sejak dini. Ayah dan ibunya, almarhum Saibon AS dan almarhumah Jamilah SM, bukanlah orang berada. Mereka bekerja mengumpulkan kaleng susu bekas, lalu mengolahnya menjadi talang untuk pohon karet, barang sederhana yang kemudian dijual ke pasar demi menyambung hidup.
Pekerjaan itu tidak mengenal waktu. Tak jarang, keduanya bekerja hingga larut malam, bahkan mendekati tengah malam, demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anak mereka bisa terus bersekolah. Di tengah kondisi itu, Anang kecil belajar satu hal penting: bahwa hidup tidak selalu memberi kemudahan, tetapi selalu memberi kesempatan bagi mereka yang mau berjuang. Kesederhanaan itulah yang menanamkan tekad dalam dirinya bahwa suatu hari, ia harus mampu membanggakan kedua orang tuanya. Mimpi itu tumbuh pelan, tetapi kuat, menjadi bahan bakar yang tak pernah padam.
Dari Wartawan ke "Profesor Berita"
Perjalanan Anang tidak langsung menuju dunia akademik. Ia lebih dulu ditempa di dunia jurnalistik ruang yang mengasah kepekaan, ketelitian, dan keberanian berpikir kritis. Sebagai wartawan, ia dikenal produktif. Tulisan-tulisannya tajam, reflektif, dan kaya perspektif. Bahkan di kalangan rekan seprofesi, ia pernah dijuluki "Profesor Berita", sebuah julukan yang saat itu terdengar seperti gurauan, namun ternyata menjadi semacam ramalan.
Ia juga mengantongi sertifikat Uji Kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers, pengakuan atas profesionalitasnya di bidang jurnalistik. "Dulu mereka memanggil saya profesor karena banyaknya berita yang saya tulis. Hari ini, saya menjadi profesor sesungguhnya," ujarnya, mengenang perjalanan itu dengan haru.
Namun dunia jurnalistik bukan satu-satunya ruang yang ia jelajahi. Ia juga aktif sebagai aktivis dan pernah terlibat dalam dunia politik praktis. Pengalaman ini membuatnya memahami komunikasi politik bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai realitas yang hidup dengan segala kompleksitasnya.
Akademisi yang Gelisah
Di dunia akademik, Anang menemukan ruang refleksi yang lebih dalam. Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menulis dan berpikir. Ratusan opini telah ia hasilkan. Buku-buku yang ia tulis mengupas komunikasi politik, politik Islam, hingga kebijakan publik. Ia juga aktif dalam berbagai forum diskusi, termasuk dalam penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia bersama Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Namun, di balik produktivitas itu, ada kegelisahan yang terus ia rawat tentang arah politik yang kian menjauh dari nilai-nilai etika.
Kegelisahan itu mencapai puncaknya dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul "Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam." Dalam pidato tersebut, ia mengangkat fenomena yang sangat akrab di era demokrasi modern: politik pencitraan.
Menurutnya, pencitraan memang tidak bisa dihindari. Namun persoalannya bukan pada keberadaannya, melainkan pada dasarnya apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi? Dalam perspektif Islam, komunikasi politik tidak bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia menegaskan pentingnya spirit qaulan sadida komunikasi yang lurus, benar, dan tidak menyesatkan."Sesungguhnyapolitik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi bentuk pengabdian. Reputasi tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, melainkan dari konsistensi akhlak."ujarnya
Tiga Gagasan untuk Politik yang Bermartabat
Dari refleksi panjang itu, ia menawarkan tiga gagasan utama.
Pertama, menggeser pencitraan dari simbol ke akhlak. Politik Islam tidak boleh berhenti pada simbol religius, tetapi harus mewujud dalam tindakan nyata yang jujur dan adil.
Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika. Ia mengkritik kecenderungan menjadikan tokoh agama sebagai alat legitimasi politik, padahal peran sejatinya adalah sebagai penuntun moral.
Ketiga, mendorong kampanye berbasis maslahat. Politik tidak seharusnya berkutat pada kultus figur, melainkan pada agenda keummatan dan kebangsaan.
Puncak yang Menjadi Awal
Di balik toga profesor itu, ada kisah panjang tentang kerja keras, tentang orang tua yang bekerja hingga tengah malam, tentang mimpi yang tidak pernah padam. Kini, sebagai guru besar, Anang tidak hanya membawa gelar, tetapi juga tanggung jawab untuk terus menyuarakan pentingnya etika dalam politik, untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral hanyalah ilusi.
Dari seorang anak kampung yang menyaksikan orang tuanya mengolah kaleng bekas hingga larut malam, kini lahir seorang profesor yang membawa gagasan besar: mengembalikan komunikasi politik ke jalan yang lebih bermartabat. Dan mungkin, di suatu tempat yang tak terlihat, kedua orang tuanya tersenyum melihat anaknya telah sampai pada titik yang dulu hanya bisa mereka doakan dalam diam.
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
Dua Akademisi UIN Sumut Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Tegaskan Peran Ilmu Hadapi Tantangan Zaman
Tiga Wartawan PWI Sumut Ikuti Retret Bela Negara Kemhan RI
SIWO Sumut Gelar Workshop Wartawan Olahraga
UKW PWI Sumut 2025 Sukses, 46 Wartawan Kompeten