Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik
Tiga Gagasan untuk Politik yang Bermartabat
Dari refleksi panjang itu, ia menawarkan tiga gagasan utama.
Pertama, menggeser pencitraan dari simbol ke akhlak. Politik Islam tidak boleh berhenti pada simbol religius, tetapi harus mewujud dalam tindakan nyata yang jujur dan adil.
Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika. Ia mengkritik kecenderungan menjadikan tokoh agama sebagai alat legitimasi politik, padahal peran sejatinya adalah sebagai penuntun moral.
Ketiga, mendorong kampanye berbasis maslahat. Politik tidak seharusnya berkutat pada kultus figur, melainkan pada agenda keummatan dan kebangsaan.
Puncak yang Menjadi Awal
Di balik toga profesor itu, ada kisah panjang tentang kerja keras, tentang orang tua yang bekerja hingga tengah malam, tentang mimpi yang tidak pernah padam. Kini, sebagai guru besar, Anang tidak hanya membawa gelar, tetapi juga tanggung jawab untuk terus menyuarakan pentingnya etika dalam politik, untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral hanyalah ilusi.
Dari seorang anak kampung yang menyaksikan orang tuanya mengolah kaleng bekas hingga larut malam, kini lahir seorang profesor yang membawa gagasan besar: mengembalikan komunikasi politik ke jalan yang lebih bermartabat. Dan mungkin, di suatu tempat yang tak terlihat, kedua orang tuanya tersenyum melihat anaknya telah sampai pada titik yang dulu hanya bisa mereka doakan dalam diam.
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
Dua Akademisi UIN Sumut Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Tegaskan Peran Ilmu Hadapi Tantangan Zaman
Tiga Wartawan PWI Sumut Ikuti Retret Bela Negara Kemhan RI
SIWO Sumut Gelar Workshop Wartawan Olahraga
UKW PWI Sumut 2025 Sukses, 46 Wartawan Kompeten