FORMASSU Desak Presiden Evaluasi Kebijakan Kontroversial dan Ganti Kapolri

Gustan Pasaribu - Minggu, 31 Agustus 2025 13:22 WIB
FORMASSU Desak Presiden Evaluasi Kebijakan Kontroversial dan Ganti Kapolri
dokumenanalisamedan.com
Ketua Umum FORMASU Ariffani, SH, MH

analisamedan.com - Forum Masyarakat Sipil Sumatera Utara (FORMASSU) menyerukan keprihatinan mendalam atas situasi nasional terkini yang dinilai sarat kebijakan kontroversial dan respons aparat yang memicu kemarahan publik. FORMASSU menilai kondisi ini mirip dengan gejolak reformasi 1998, ketika rakyat berbondong-bondong turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.

Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Presidium FORMASSU, organisasi ini menilai pemerintah dan DPR telah gagal merespons aspirasi rakyat secara bijaksana. Kenaikan tunjangan fantastis anggota DPR, kebijakan pajak yang dinilai memberatkan, serta kasus sembako oplosan dan mahal, menjadi sorotan utama.

"Rakyat hadir sebagai kontrol sosial, bukan musuh pemerintah. Aspirasi seharusnya didengar, bukan dihadapi dengan kekerasan aparat," tegas FORMASSU dalam pernyataannya, Minggu (31/8).

FORMASSU kemudian menyampaikan lima sikap penting:

Presiden Prabowo diminta mengevaluasi menyeluruh seluruh kebijakan yang mencederai hati rakyat, termasuk pajak, BBM, sembako, pertambangan, kasus korupsi, hingga proyek strategis nasional seperti IKN dan PIK.

DPR diminta melakukan introspeksi, menghentikan pernyataan yang menyakiti rakyat, dan membatalkan kebijakan tidak pro-rakyat. Anggota DPR yang terbukti gagal diminta mundur.

Masyarakat diminta menahan diri dari tindakan anarkis, namun tetap memberi peringatan keras kepada DPR dan pemerintah untuk mencabut kebijakan yang tidak berkeadilan sosial.

Presiden diminta memecat para menteri dan Kapolri yang dinilai mencederai hati nurani rakyat.

Presiden harus mengganti Kapolri yang dianggap gagal melindungi masyarakat, terlebih setelah insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan Brimob.

FORMASSU juga menyinggung lemahnya integritas bangsa dan pudarnya semangat kebangsaan di tengah perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. "Rasa cinta tanah air jangan sekadar retorika, jiwa kesatria bukan hanya seremoni belaka. Sudah saatnya menghidupkan semangat penghayatan dan pengamalan Pancasila di era digital yang Pancasilais," tulis Presidium FORMASSU.

Pernyataan sikap ini ditandatangani oleh Presidium FORMASSU, yakni Ariffani, Rafdinal, Lisa Afrianti, Siti Khadijah Pulungan, Marjoko, Maman Nata Wijaya, Dedy Sofyan, Lukman Hakim, Surya Ardiansyah, dan Chairul.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru