Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu - Selasa, 08 September 2026 23:09 WIB
Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
analisamedan/dok
ilustrasi

Dari ecotheology menuju "teologi yang berkeringat"

Buku ini terdiri atas lima bagian dan dua puluh bab, bergerak dari fondasi teologis, diagnosis krisis lingkungan, akar peradaban dan spiritualitas, praktik green ecotheology, hingga AI, lintas iman, etika konsumsi, dan visi bumi lestari menuju 2045.

Cakupannya luas: dari pemikiran Lynn White Jr., Seyyed Hossein Nasr, Thomas Berry, dan Sallie McFague hingga konsep Islam seperti khalifah, fasad, hima, dan fiqh al-bi'ah. Pembahasan kemudian masuk ke persoalan deforestasi, pencemaran sungai, perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, hiperkonsumsi, fast fashion, limbah makanan, hingga jejak ekologis pusat data dan kecerdasan buatan.

Konsep sentralnya adalah Green Ecotheology. "Hijau" di sini bukan sekadar kosmetik. Penulis ingin ekoteologi bergerak dari refleksi menuju tindakan. Karena itu muncul gagasan tentang "teologi yang berkeringat": teologi yang tidak puas dengan khotbah indah tentang alam ketika sungai di belakang rumah ibadah masih tercemar.

Buku ini menolak dua ekstrem. Di satu sisi, gerakan lingkungan dapat kaya data dan strategi tetapi kekurangan sumber makna spiritual untuk menggerakkan masyarakat beriman. Di sisi lain, keberagamaan dapat sangat khusyuk di dalam rumah ibadah tetapi kehilangan kepekaan terhadap kerusakan ekologis di luar temboknya.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru