Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu - Selasa, 08 September 2026 23:09 WIB
Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
analisamedan/dok
ilustrasi

Dari kesadaran menuju tindakan

Buku ini menutup pembahasannya dengan visi bumi lestari menuju 2045. Harapan tersebut penting, tetapi harapan ekologis tidak boleh menjadi optimisme yang murah. Bumi tidak membutuhkan manusia yang semakin pandai berbicara tentang kelestarian. Bumi membutuhkan manusia yang bersedia mengubah cara hidup, cara berproduksi, cara mengonsumsi, cara membuat kebijakan, bahkan cara memahami kesalehan.

Buku ini tidak harus dibaca sebagai klaim bahwa agama memiliki satu-satunya jawaban atas krisis ekologis. Justru kekuatannya terletak pada tawaran agama sebagai salah satu sumber daya moral yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Sains tetap diperlukan. Teknologi tetap diperlukan. Kebijakan publik tetap diperlukan. Ekonomi yang berkeadilan tetap diperlukan.

Tetapi semuanya membutuhkan satu pertanyaan yang lebih dalam:
Apa yang membuat manusia mau melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang mengawasinya?
Buku ini menjawab: iman.
Pembaca kritis boleh menambahkan satu hal: iman harus memiliki keberanian politik agar tidak berhenti menjadi kesalehan privat.

Sebab menjaga bumi bukan hanya soal tidak membuang sampah sembarangan. Ia juga soal mempertanyakan sistem yang terus memproduksi sampah. Bukan hanya menanam pohon, tetapi juga mempertanyakan mengapa hutan harus ditebang. Bukan hanya menghemat air ketika berwudu, tetapi juga memastikan sumber air tidak dihancurkan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar menjadi manusia yang saleh di dalam rumah ibadah, tetapi menjadi manusia yang saleh terhadap bumi di luar tembok rumah ibadah.
Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga kesucian air wudu, tetapi lupa menjaga air tempat wudu itu diambil.
Jika itu terjadi, mungkin persoalannya bukan bahwa kita kekurangan agama.
Mungkin kita hanya belum selesai memahami apa arti beragama.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru