Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu - Selasa, 08 September 2026 23:09 WIB
Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
analisamedan/dok
ilustrasi


Petani membutuhkan kebijakan yang adil. Masyarakat adat membutuhkan perlindungan hukum. Konsumen membutuhkan alternatif yang terjangkau. Rumah ibadah membutuhkan sistem pengelolaan air, energi, dan sampah yang benar.
Buku ini memang telah memasuki wilayah kebijakan publik. Namun hubungan antara transformasi spiritual dan perubahan struktur ekonomi-politik masih dapat didorong lebih jauh.

Jangan sampai menjadi "greenwashing religius". Ada paradoks lain yang patut diwaspadai. Buku ini mengkritik agama yang berhenti pada ritual. Tetapi ecotheology sendiri dapat mengalami nasib serupa apabila berhenti pada khutbah, seminar, deklarasi lintas iman, penanaman pohon simbolik, atau kampanye media sosial. Risikonya adalah "greenwashing religius": institusi keagamaan terlihat hijau secara simbolik, tetapi tetap boros energi, menghasilkan sampah, menggunakan air secara berlebihan, atau bahkan diam terhadap kebijakan yang merusak lingkungan.

Karena itu, ukuran keberhasilan green ecotheology seharusnya bukan seberapa sering khatib berbicara tentang lingkungan.
Pertanyaannya harus lebih keras: berapa banyak air yang dihemat? Berapa banyak energi yang dikurangi? Berapa banyak sampah yang berhasil dicegah? Apakah jamaah mengubah pola konsumsi? Apakah lembaga keagamaan berani bersuara ketika hutan dirusak? Di sinilah "teologi yang berkeringat" benar-benar diuji.

Ketika AI juga menjadi persoalan ekologis. Pembahasan mengenai AI dan Revolusi Industri 4.0 menjadi salah satu bagian menarik buku ini. Penulis tidak terjebak pada anggapan bahwa teknologi pasti menyelamatkan manusia.
Teknologi digital memiliki jejak ekologis: pusat data membutuhkan listrik dan air, sementara penggunaan AI terus memperluas kebutuhan komputasi.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah teknologi boleh digunakan, melainkan untuk apa teknologi digunakan, siapa yang memperoleh manfaatnya, siapa yang menanggung biaya ekologisnya, dan seberapa banyak konsumsi teknologi yang sebenarnya tidak diperlukan. Dengan memasukkan AI, buku ini menunjukkan bahwa ekoteologi tidak harus menjadi nostalgia terhadap alam. Ia dapat menjadi perangkat etis untuk menghadapi dunia digital. Luas, tetapi membutuhkan pendalaman.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru