Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu - Selasa, 08 September 2026 23:09 WIB
Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
analisamedan/dok
ilustrasi

Ini relevan bagi Indonesia. Banjir, pencemaran, kekeringan dan perubahan iklim tidak mengenal identitas agama. Karena itu, ekologi dapat menjadi salah satu titik temu paling konkret dalam kehidupan kebangsaan.
Daripada hanya membicarakan toleransi melalui seminar, mengapa tidak membangun kerukunan melalui sungai yang dibersihkan bersama, hutan yang dijaga bersama, dan sampah yang dikelola bersama?

Dari mimbar menuju politik ekologis

Buku ini semakin menarik ketika keluar dari wilayah kesalehan individual. Ia membicarakan pesantren hijau, rumah ibadah hemat energi dan air, bank sampah, reboisasi, konservasi berbasis masyarakat, wakaf lingkungan, kebijakan publik, dan politik ekologi.

Penulis juga menyadari bahwa aturan lingkungan tidak berarti tanpa penegakan, transparansi, akuntabilitas, integritas birokrasi, dan kemauan politik. Ini penting karena krisis ekologis terlalu mudah dibebankan kepada individu: masyarakat membuang sampah, konsumen boros, atau rumah tangga menggunakan terlalu banyak air. Padahal kerusakan lingkungan juga dibentuk oleh struktur produksi, tata ruang, izin usaha, politik energi, industri ekstraktif, transportasi, dan kebijakan pembangunan.

Karena itu, lingkungan tidak boleh hanya menjadi proyek moral individu. Ia juga merupakan persoalan politik.
Tetapi transformasi spiritual saja tidak cukup.Di sinilah kritik paling penting terhadap buku ini perlu diajukan.
Apakah transformasi spiritual cukup untuk menghentikan mesin ekonomi yang menghasilkan kerusakan ekologis?

Buku ini banyak menempatkan keserakahan, materialisme, antroposentrisme, dan krisis spiritual sebagai akar masalah. Sebagai kritik moral, argumen ini kuat. Namun jika terlalu dominan, struktur ekonomi-politik berisiko terlihat sebagai persoalan sekunder.

Padahal orang yang memiliki kesadaran ekologis tinggi tetap dapat hidup dalam sistem yang bergantung pada energi fosil, transportasi yang tidak efisien, produk sekali pakai, dan rantai pasok yang tidak berkelanjutan.
Dengan kata lain, tidak semua kerusakan lingkungan dapat diselesaikan dengan memperbaiki hati.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru