Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu - Selasa, 08 September 2026 23:09 WIB
Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
analisamedan/dok
ilustrasi

Dalam Islam, perubahan itu memiliki bahasa yang kuat: manusia sebagai khalifah, larangan melakukan fasad, serta gagasan hima sebagai kawasan yang dilindungi. Dengan demikian, merusak lingkungan bukan sekadar tindakan "tidak ramah lingkungan", tetapi juga persoalan etis-keagamaan.

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah keberaniannya menegaskan bahwa lingkungan bukan tema tambahan bagi agama. Jika manusia adalah khalifah, mengelola bumi merupakan amanah. Jika fasad dilarang, pencemaran dan penghancuran ekosistem harus dibaca sebagai persoalan moral. Jika menjaga alam merupakan bentuk kemaslahatan, konservasi dapat menjadi bagian dari kesalehan.

Kekuatan lainnya adalah usaha mempertemukan agama dan sains. Penulis membayangkan ulama menyediakan makna, akademisi menyediakan nalar, dan aktivis menyediakan tindakan. Formula ini penting. Agama tanpa pengetahuan ilmiah dapat terjebak dalam moralitas abstrak.

Sains tanpa basis nilai dapat kesulitan menjawab pertanyaan tentang kemauan dan pengorbanan. Aktivisme pun membutuhkan energi moral agar tidak berhenti ketika proyek dan pendanaan selesai. Cakrawala buku juga tidak berhenti pada Islam. Stewardship dalam Kristen, Laudato Si', Tri Hita Karana, ajaran Buddha, Konghucu, dan kearifan lokal ikut dibicarakan.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru