Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
Secara konseptual, buku ini memiliki cakupan yang mengesankan. Namun keluasan sekaligus menjadi tantangannya.
Dua puluh bab membentang dari sejarah peradaban hingga AI, dari tafsir keagamaan hingga kebijakan publik, dari masjid hijau hingga gaya hidup minimalis. Pembaca memperoleh panorama yang luas, tetapi panorama tidak selalu sama dengan kedalaman.
Beberapa bagian lebih terasa sebagai pemetaan dan ajakan reflektif daripada penelitian empiris. Untuk memperkuat Green Ecotheology sebagai bidang kajian, penelitian berikutnya perlu menguji gagasan-gagasan tersebut di lapangan: apakah khutbah ekologis mengubah perilaku jamaah? Apakah masjid hijau benar-benar menurunkan konsumsi air dan energi? Apakah pendidikan ekoteologi mengubah pola konsumsi santri? Apakah fatwa lingkungan memengaruhi perilaku masyarakat?
Pertanyaan akhirnya adalah: dalam kondisi apa agama benar-benar berhasil mengubah perilaku ekologis? Di situlah green ecotheology dapat bergerak dari wilayah normatif menuju wilayah empiris.
Pada akhirnya, buku ini mempertanyakan arti peradaban. Kekuatan terdalam buku Jamiluddin Marpaung mungkin bukan hanya pada pembicaraan tentang lingkungan, melainkan pada pertanyaan tentang peradaban. Apakah peradaban berarti semakin banyak barang, semakin cepat teknologi, semakin tinggi konsumsi, semakin besar gedung, semakin banyak kendaraan, dan semakin luas produksi? Ataukah peradaban justru diukur dari kemampuan manusia mengetahui kapan harus berhenti?
Pembahasan tentang hiperkonsumsi, fast fashion, limbah makanan, pariwisata massal, dan jejak digital memperlihatkan bahwa kemajuan selalu memiliki jejak ekologis. Tidak ada kenyamanan yang benar-benar gratis bagi bumi.
Dalam Islam, persoalan ini bertemu dengan konsep israf dan tabzir: dorongan untuk memiliki lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Maka krisis ekologis akhirnya kembali kepada persoalan yang sangat tua: nafsu manusia untuk memiliki lebih banyak daripada yang diperlukan. Barangkali karena itu krisis lingkungan memang sekaligus krisis spiritual. Bukan karena manusia tidak tahu bumi harus dijaga, tetapi karena manusia tahu dan tetap memilih merusaknya.