Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air
Di sinilah muncul kalimat paling menggigit: "...seolah menjaga wudu lebih penting daripada menjaga air tempat wudu itu diambil."
Kalimat ini bukan sekadar metafora. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan utama buku: bagaimana mengubah cara beragama sehingga alam tidak lagi diperlakukan sebagai latar belakang kehidupan spiritual manusia?
Ketika bumi hanya menjadi objek
Buku ini berhasil menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar kecelakaan teknis. Dalam pembahasan tentang Antroposen, manusia tampil bukan hanya sebagai penghuni bumi, tetapi sebagai kekuatan yang mampu mengubah sistem planet dalam waktu singkat. Perubahan iklim, deforestasi, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati memperlihatkan skala persoalan tersebut.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa manusia tetap merusak sesuatu yang ia tahu sedang rusak?
Data dapat menjelaskan temperatur, emisi, polusi dan deforestasi. Namun data tidak dengan sendirinya menjelaskan keserakahan.
Di sinilah dimensi spiritual menjadi penting. Antroposentrisme pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam—dibaca sebagai salah satu akar krisis ekologis. Ketika alam hanya dipandang sebagai sumber daya, hutan menjadi kayu, sungai menjadi saluran pembuangan, dan tanah menjadi komoditas. Sebaliknya, jika alam dipahami sebagai ciptaan, relasi manusia terhadapnya semestinya berubah.