Kritik MBG dan Demokrasi yang Diuji
Oleh: Farid Wajdi Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015–2020
Gustan Pasaribu - Selasa, 27 Januari 2026 23:16 WIB
dokumenanalisamedan.com
Padahal, intimidasi terhadap pengkritik menyentuh wilayah serius: pembatasan kebebasan berpendapat, tekanan psikologis terhadap anak, dan pembungkaman informasi publik. Negara bukan hanya gagal melindungi anak dari risiko pangan, tetapi juga lalai menjaga hak konstitusional mereka.
Pada akhirnya, MBG menghadirkan paradoks kebijakan. Program berlabel gizi justru membuka risiko keselamatan, sementara kritik diperlakukan sebagai ancaman. Pertanyaan mendasarnya sederhana: siapa yang sebenarnya dilindungi negara anak-anak, atau kebijakan yang tak boleh dikoreksi?
Demokrasi tidak mati sekaligus. Ia melemah ketika kritik dibungkam, korban disuruh diam, aparat ragu bertindak, dan kebijakan dipertahankan meski bukti kegagalan menumpuk.
Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
UNPRI Sajikan Pengalaman Tak Terlupakan bagi Mahasiswa Baru di PKKMB 2026
Pegadaian Edukasi 200 Mahasiswa USU Soal Keuangan dan Risiko Pinjol Ilegal
Rapat Dengan Dewan Pendidikan, Bupati Deli Serdang Setujui Diklat Guru dan Kepala Sekolah Berbasis BNSP
SK Kepengurusan Golkar Sumut Terbit, Andar Amin Harahap Resmi Pimpin DPD Golkar Sumut
Keracunan MBG Berulang, PKUTK Sumut Soroti Pertanggungjawaban Hukum SPPG
4.359 Mahasiswa Baru UINSU Ikuti PBAK, Ini Pesan Rektor
Komentar