Nazaya Zulaikha, Anak Deliserdang Berkarya di Jepang
analisamedan.com - Semangatmembara dan keinginan kuat serta jerih payah dalam belajar untuk menggapai cita-cita ternyata tidak sia-sia. Hasil tidak mengingkari proses. Jerih payah belajar dan proses yang dilaluinya berbuah manis.
Bagaimana tidak ? Perempuan bernama lengkap Nazaya Zulaikha kelahiran 8 Januari 1990, asal Kota Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, ini menjadi perempuan pertama Indonesia dan muslimah pertama di dunia yang mendapat kepercayaan sebagai Duta Promosi Prefektur (Wilayah administrasi setara provinsi di Indonesia) Saitama, Jepang.
Anak sulung dari pasangan Zulkarnain dan Eldina ini telah berkarya dan berdiam di negara Jepang sejak tahun 2015 lalu tepatnya di Prefektur (provinsi) Saitama yang beribukota Saitama bersebelahan langsung dengan kota metropolitan Tokyo.
Kepercayaan pemerintah Prefektur Saitama, Jepang, menobatkan 'Aya' panggilan akrabnya, sebagai Duta Promosi Prefektur Saitama bersama 19 duta lainnya dilantik langsung Gubernur Prefektur Saitama Mr. Oono Motohiro 20 Mei 2025 lalu di Saitama Prefectural Reception House, kota Saitama.
Hari-harinya sampai setahun ke depan, akan terus disibukkan mempromosikan potensi dan keindahan Prefektur Saitama agar daerah itu dilirik dan menjadi destinasi kunjungan wisatawan mancanegara khususnya umat Islam yang banyak belum tahu.
Aya yang merupakan jebolan Fakultas Ilmu Budaya Sastra Jepang, Universitas Sumatera Utara (USU) dan Pascasarjana Jurusan Linguistik almamater yang sama ini mengaku, merasa tertantang dengan tugas barunya sebagai Duta Promosi Prefektur Saitama.

Menerima amanah sebagai Duta Promosi dilantik langsung Gubernur Prefektur Saitama Mr. Oono Motohiro
Selain tanggung jawab besar yang harus dijawab dengan karya nyata, Aya merupakan muslimah pertama di dunia yang harus beradaptasi dan membaca dengan baik orientasi tugas-tugasnya untuk mempromosikan Prefektur Saitama agar dilirik dan menjadi destinasi wisata kunjungan khususnya muslim dari Indonesia dan Asia Tenggara bahkan dunia.
"Ya. Saya satu-satunya duta promosi yang muslim (muslimah)," ungkapnya.
Sejak menjadi duta promosi, Aya mengaku, jadi lebih banyak mengetahui tentang Saitama sebagai prefektur yang sangat unik dan kaya serta punya kedisiplinan juga sangat aktif dalam menjaga perdamaian, keseimbangan alam dan sisi menarik lainnya.
'Jalan' Menuju Jepang
Jalan panjang Aya bisa berkarya di Jepang tidaklah mudah. Aya melalui tahapan menantang sejak menetapkan hati dan pilihannya untuk kuliah strata1 memperdalam bahasa Jepang di Universitas Sumatera Utara (USU), Fakultas Ilmu Budaya Sastra Jepang. Bahkan jenjang pendidikan selanjutnya tingkat pascasarjana.
Alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lubukpakan Kabupaten Deliserdang ini mengawali karirnya lewat bekerja di perusahaan milik Jepang dibidang furniture dan kosmetik. Dari sini ia mulai terus meningkatkan keterampilannya dibidang desain komputer, marketing serta menulis.
Seiring dengan terus meningkatnya keterampilan, Aya yang juga sudah memiliki 'modal' besar mengusai komunikasi berbahasa Jepang, menjadi 'pintu' untuk berkarya di Jepang. Aya kemudian kenal dengan owner perusahaan media yang kini tempatnya bekerja, akhirnya membuka jalan berkarya di Jepang tepatnya di Prefektur Saitama.
Mengunjung time bell tower di Kawagoe sebaga Duta Prmosi
Aya juga mengakui mendapatkan nikmat luar biasa. Selain bisa bekerja dan berkarya di Jepang, hatinya juga mendapatkan ketenangan dengan mendapatkan jodoh seorang pria Jepang muslim bernama Katayama Yasuhito yang kini menjadi suaminya serta telah dikarunia seorang anak perempuan.
Disiplin dan Jangan Takut
Banyak orang Indonesia yang bermimpi bisa berkiprah, berkarya dan bekerja di negara Jepang. Mayoritas alasan karena ada anggapan penghasilan secara ekonomi bekerja di negeri 'sakura' tinggi dan bisa sejahtera.
Alasan ini diakui Aya. Bekerja di Jepang bisa menghasilkan uang banyak karena gajinya termasuk tinggi. Namun Jepang punya aturan ketat yakni, penghasilan orang yang bekerja akan langsung dipotong pajak sehingga tidak akan bisa menghindar dari kewajiban tersebut.
Namun untuk bisa mendapatkan peluang kerja dengan pendapatan tinggi, orang tersebut harus mampu berkompetisi dan punya nilai lebih. Sebab negara Jepang lebih mengutamakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menjadi nilai (value) dalam berkarya.
Selain itu, tipe pekerja yang tidak serius alias ingin santai, seperti saat cuaca panas, malas bekerja, akan sulit berkompetisi dan maju. Karena itu, bila ada orang yang ingin bekerja di Jepang, harus disiplin dan punya kapasitas.
Berpartisipasi dalam kegiatan promosi musim dingin di resort Ski "Gala Yuzawa' Prefektur Niigata
Kedisiplinan dengan hidup teratur menjadi salah satu kunci sukses berkarya di Jepang. Misalnya, naik kereta api tepat waktu sesuai jadwal. Mengikuti setiap jadwal kegiatan yang sudah tertata rapi waktunya.
Pepatah "Time is money' (waktu adalah uang). implementasinya sangat terasa di Jepang. Selain terus meningkatkan kapasitas diri karena Jepang lebih melihat karya dari pada kata-kata termasuk koneksitas.
Aya sendiri mengakui, dirinya terus meningkatkan kapasitasnya sampai saat ini dengan mengikuti Publik Relations Academy bersifat setengah formal. Belajar online dengan pihak publik relation yang banyak dipercaya perusahaan demi meningkatkan kapasitas.
"Kalau mau berkarya (di Jepang), siap dengan disiplin. Jangan mengganggu orang. Relasi atau koneksi, bila punya keluarga, tidak berlaku. Di Jepang mandiri," ungkap Aya yang juga alumni Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lubukpakam dan Sekolah Dasar (SD) Negeri 101900 Lubukpakam.
Aya dan kedua orang tua serta adiknya saat berkunjung ke Jepang sembari menikmati suasana daerah Marunouchi kota Tokyo
Namun menurut Aya, bagi orang Indonesia yang ingin berkarya di Jepang, jangan takut dengan tantangan dan jangan terlalu berimajinasi. Semangat untuk berbuat karena Jepang merupakan negara yang sangat mengutamakan nilai dan sklill serta dapat bekerja keras.
"Jangan takut tantangan. Jangan takut kalau mau ke satu tujuan. Jalan saja terus. Persiapkan diri menjadi nilai dengan mengasah diri, memiliki keterampilan tertentu. Secara kualitas, akan punya lebih kesempatan besar untuk mendapatkan peluang," tandas Aya.*
PWI Sumut Tebar Kepedulian Iduladha 1447 H, Sembelih 4 Sapi dan 2 Kambing
Farid Wajdi Soroti Blackout Sumatera: Negara Jangan Sibuk Pencitraan, Tapi Perkuat Ketahanan Energi
Terobosan Baru Pertamina EP Pangkalan Susu Optimalkan Produksi Sumur Migas Eksisting
Alwashliyah Mitra Strategis Penguatan Perlindungan Anak
Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Indonesia Best 50 CEO Awards 2026