Kapal NasDem Deliserdang ‘Terombang-ambing’ di Tepi Dermaga Restorasi

Oleh : El-Khair
El-Khair - Minggu, 07 Juli 2024 03:26 WIB
Kapal NasDem Deliserdang ‘Terombang-ambing’ di Tepi Dermaga Restorasi
ilustras.dok,analisamedan,com

analisamedan.com - Dalam situasi saat ini, jelang pilkada serentak di Indonesia 27 Nopember 2024 mendatang, topik politik menjadi diskusi diberbagai tempat. Warung-warung kecil di perkampungan pun tak lepas dari diskusi politik. Kafe-kafe berubah menjadi tempat tongkrongan asyik mendiskusikan perkembangan politik terkini.

Di Kabupaten Deliserdang, diskusi politik sangat terasa jelang pilkada. Apa lagi atmosfer politiknya terasa sangat kencang dan kompetitif.

Partai politik (parpol) pemilik kursi di DPRD Deliserdang sudah selesai melakukan penjaringan dan pendaftaran bakal calon kepala daerah (bacakada) baik bupati dan wakil bupati. Masing-masing parpol kini sedang menunggu hasil keputusan dari petinggi partai di tingkat pusat.

Di Deliserdang sesuai hasil pemilu legislatif 14 Pebruari 2024 kemarin, ada 4 parpol yang menurut penulis masuk kategori parpol kelas atas yakni, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Nasional Demokrat (NasDem).

Keempat parpol di atas masing-masing memiliki 7 kursi di legislatif. Selebihnya ada parpol papan tengah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 5 kursi dan parpol papan bawah dengan 2 kursi ke bawah.

Fenomena NasDem

Ada hal menarik dari fenomena satu parpol kelas atas di Kabupaten Deliserdang. Parpol ini awalnya tidak begitu menjadi perhatian. Namun sejak berakhirnya pileg dan jelang pilkada, parpol ini menjadi 'buah bibir' diskusi baik para pemerhati politik maupun politisi yang terlibat langsung di dunia perpolitikan .

Bahkan masyarakat bawah yang senang dengan diskusi politik berdalil 'apa saja', meski kurang rasional dan tanpa argumentasi substantif sekalipun banyak membicarakannya.

Partai Nasional Demokrat yang akrab menyebutnya dengan singkatan 'Nasdem' merupakan parpol dimaksud. Partai besutan politisi kawakan Surya Paloh ini kini menghipnotis para politisi, pemerhati dan masyarakat yang tertarik mendiskusikannya.

Poin mendasar dari NasDem jadi perbincangan bukan saja karena perolehan kursinya di DPRD yang masuk parpol kelas atas dengan 7 kursi. Daya hipnotis itu dikarenakan kader NasDem Deliserdang yang juga Ketua NasDem Deliserdang H Muhammad Ali Yusuf Siregar merupakan sosok yang diperhitungkan dan sangat diyakini bakal memenangkan pertarungan pilkada 27 Nopember 2024 mendatang

Pasalnya Yusuf Siregar merupakan sosok 'komplit' yang memiliki elektabilitas dengan kapasitas sebagai politisi dan birokrat berpengalaman. Dalam dunia birokrasi, Yusuf Siregar menjalaninya dari bawah dan merupakan Wakil Bupati juga Bupati Deliserdang sisa periode 2019-2024.

Fenomena Yusuf Siregar yang viral dengan hastag #SiKumisputih, ibarat gula yang dikerumuni banyak semut. Banyak orang yang menginginkan bisa berpasangan dengannya sebagai calon wakil bupati pada pilkada Deliserdang.

Bahkan ada isu, calon legislatif terpilih pada pileg 14 Pebruari 2024 kemarin, berani merelakan kursinya di DPRD yang akan dilantik Oktober 2024 mendatang lepas dari tangannya bila komitmen mendampingi Yusuf Siregar diberikan.

Sejumlah politisi dari parpol di luar NasDem mengaku langsung, potensi Yusuf Siregar untuk menang di Pilkada Deliserdang terbuka lebar dengan elektabilitasnya saat ini. Bahkan ada politisi yang mengemukakan, andaikan partainya tidak mengganjar dirinya dengan hukuman disiplin, ia akan mendukug terang-terangan dan berjuang untuk memenangkan Yusuf Siregar.

Sebab perjuangannnya tidak terlalu berat dan tidak sulit menjual sosok Yusuf Siregar kepada masyarakat Deliserdang. Bahkan elemen masyarakat saat ini sedang bersiap-siap mendeklarasikan dukungan terhadap Yusuf Siregar menjadi Bupati Deliserdang

'Terombang-ambing'

Ibarat sebuah kapal, partai Nasdem Deliserdang masuk kategori kapal pesiar mewah yang masih bersandar di tepi dermaga. Belum bisa berlayar meski bahan bakarnya sudah tersedia. Padahal ombak dari tengah lautan samudera sudah menghempas sampai ke tepian.

Hempasan ombaknya pun sudah berefek kepada kapal yang terlihat 'terombang-ambing' dan percikannya sedikit demi sedikit menghantam badan kapal. Dikhawatirkan, kapal pesiar mewah itu sedikit demi sedikit akan 'keropos' karena korosi yang diakibatkan proses kimia air dari laut.

Seyogyanya kapal yang 'terombang-ambing' sudah berada di tengah lautan ketika harus berhadapan dengan gelombang yang tinggi atau badai. Tapi lucunya, kapal mewah Nasdem Deliserdang justeru terombang-ambing masih bersandar di tepi dermaga.

Kalau kapal masih di tepi dermaga saja sudah terombang-ambing, itu artinya mesin kapal sedang rusak. Kalau mesin kapal rusak, sudah pasti tidak akan bisa berlabuh ke tengah lautan yang ombaknya besar dan tinggi.

Lagi-lagi muncul dugaan, tapi ini bukan prasangka buruk, jangan-jangan jangkar kapal NasDem Deliserdang masih kokoh terbenam dan dibenamkan dengan sengaja para politisi elit yang punya kepentingan untuk membeli kapal tersebut untuk berlayar ?

Atau sengaja agar kapal mewah dibiarkan korosi agar rusak dan tidak berfungsi sama sekali menjadi bangkai ? Mungkin juga sengaja diperlambat agar proses berlayarnya sampai ke tujuan kalah diawal ?

Dermaga Restorasi

Politik itu dinamis. Perkembangan politik selalu berubah dalam sedetik. Politik itu adalah seni melihat situasi. Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Sekali pun harus 'berkhianat' merupakan hal yang wajar dalam politik. Kawan bisa menjadi lawan. Sebaliknya, lawan pun bisa menjadi kawan.

Kalimat-kalimat di atas lahir dari pikiran para politisi dan sering menjadi khazanah sebagai legalitas untuk pembenaran dalam setiap tindakan dan keputusan para politisi. Narasi-narasi tersebut memang menjadi tameng politisi guna meredam situasi dan gesekan demi aman dan nyamannya 'syahwat' politik mereka.

Dalam konteks pilkada Deliserdang ada sisi yang jadi pertanyaan mendasar terhadap nasDem yang sampai saat ini belum juga mengumumkan calonnya. Nasdem dikenal sebagai partai tanpa mahar bagi calon yang didukung. Meski masalah mahar masih menjadi pertanyaan.

Apa iya NasDem tidak pakai mahar untuk mendapatkan kapalnya ? Untuk menghilangkan 'buruk sangka', penulis menjawab sendiri pertanyaan ini "May be Yes, may be not" Artinya, penulis masih ragu.

NasDem adalah partai dengan tradisi positif selalu lebih awal memberikan dukungan terhadap setiap bakal calonnya dalam setiap pilkada termasuk pada pemilihan presiden (pilpres) kemarin. Seperti slogan yang agak senada dengan salah satu produsen sepeda motor, "Nasdem Selalu di Depan" setiap kali mengusung calonnya.

Tapi dalam konteks pilkada Deliserdang, tradisi itu tidak kelihatan. Sampai saat ini Nasdem belum menetapkan calon yang didukungnya meski pendaftaran baru dibuka 27-29 Agustus 2024 mendatang. Padahal, NasDem tidak pernah belakangan dalam hal ini dan tradisi ii menjadi tren penilaian positif bagi rakyat.

Berbanding terbalik dengan kota Medan. Nasdem sudah menetapkan calonnya dari kader sendiri. Kota Medan memang menjadi barometer pertarungan politik sebagai ibu kota Sumatera Utara. Tapi Deliserdang juga menjadi daerah penentu utama yang tidak kalah strategisnya sebagai barometer politik bagi semua partai.

Pertanyaan kembali muncul, kenapa perlakuannya beda ya ? Banyak pemikiran menyebutkan, untuk Kota Medan ada kekhususan alasan genting dan penting. Ada juga yang menyebutkan, pencalonan di Kota Medan bernuansa psikologis dan kebatinan para elit politik NasDem.

Kondisi ini mengingatkan kita dengan jargon yang diusung partai NasDem dengan kata 'restorasi'. Kata ini merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 2 makna. Pertama , bermakna, "pengembalian atau pemulihan ke keadaan semula (tentang gedung bersejarah, kedudukan raja, negara); pemugaran". Sedangkan makna kedua, "gerbong kereta api yang dijadikan restoran".

Merujuk kepada 2 makna restorasi yang disebutkan dalam KBBI di atas, semoga kondisi politik di kapal NasDem Deliserdang saat ini berada dalam 'rel' makna pertama. Andai kondisinya kepada makna kedua, jargon restorasi NasDem perlu digugat kembali.

Sebab makna restorasi "gerbong kereta api yang dijadikan restoran" berkonotasi kepada hal negatif. Secara filosofis, restoran itu tempat makan enak dan mahal yang tidak dan kurang bisa dijangkau orang miskin bahkan mungkin kalangan menengah.

Restoran juga menjadi tempat elit politik berkumpul untuk berdiskusi dan bisa jadi untuk bertransaksi menjual idealisme sehinggara rakyat menjadi korban permainan politik tanpa moralitas untuk tidak menyebut politik kotor.

Ada pidato menarik pendiri Partai NasDem Surya Paloh yang layak jadi pengingat agar kapal mewah NasDem Deliserdang tidak 'tersandera' dengan politisi yang menabrak moral partai ini dan kapal bisa berlabuh tanpa hambatan.

"Kita membangun Partai NasDem bukan untuk menjadikannya sebuah perusahaan dalam logika industrialis. Partai adalah instrument pergerakan; di sini tak boleh ada semangat transaksional, tak boleh ada yang berpikir untuk mencari selisih atau berdagang. NasDem adalah partai yang menjadi sikap ideologis dan dikelola secara professional".

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru